1 Jan 2014

Mitos Seputar Bulan Safar

·   87

bulan safar
Mitos Seputar Bulan Safar | Jika ada sobat blogger yang urang sunda pasti akan tahu nama bulan ini, Safar. Yah bulan Safar adalah salah satu bulan Islam dalam pengucapan lidah orang Sunda. Arti dari kata Safar berasal dari Shafar, yang memiliki makna “kosong.” Bangsa Arab pra-Islam sendiri mempunyai tradisi bulan Safar merupakan bulan peperangan. Masyarakat Arab pada bulan ini tidak banyak beraktivitas dan berdagang karena terganggu peperangan yang berkecamuk antar kabilah. Dari peristiwa itu muncul beragam mitos negatif di seputar bulan Safar.

Seiring dengan masuknya Islam ke tatar Sunda, mitos-mitos itu pun ikut meresap dalam pemikiran masyarakat. Orang Sunda menganggap pamali untuk mengadakan pesta perayaan, seperti hajat pernikahan atau sunatan anak di bulan Safar. Selain itu juga mereka percaya akan turun berbagai penyakit dan musibah di bulan ini dan sebagai puncaknya terjadi pada hari Rebo wekasan atau hari rabu terakhir pada bulan safar. Ada lagi mitos bahwa anak yang lahir pada bulan Safar ini akan terkena sasapareun alias anak yang sial, meureun ceuk urang sunda mah.

Bulan Bala

Bulan Safar juga diyakini sebagai bulan bala. Mitos ini sepertinya sudah mendarah daging di tengah pemahaman masyarakat kita. Mereka mempercayai bahwa pada bulan safar ini turun 70.000 penyakit untuk satu tahun ke depan. Berbagai musibah dan bencana juga banyak muncul di bulan ini. terjadinya banyak bencana pada bulan safar ini sepertinya semakin menguatkan anggapan sebagian masyarkat tentang kebenaran mitos ini.

Puncak dari semua masa turunnya bencana terjadi pada hari Rebo wekasan  yaitu hari Rabu terakhir di bulan Safar. Oleh karenanya untuk melindungi diri dan keluarga dari berbagai bala tersebut masyarakat Sunda melakukan sedekah dan ritual tolak bala. Dengan bersedekah kepada fakir miskin mereka meyakini bala bencana akan menjauh dan mereka terbebas darinya. Sedangkan ritual tolak bala dilangsungkan dengan cara memanjatkan doa dan mandi di pantai, sungai atau tempat-tempat keramat tertentu untuk membuang sial. Sekalipun ritual mandi ini sudah terkikis zaman dan semakin jarang dilakukan masyarakat tapi ritual memanjatkan doa penolak bala di malam Rebo wekasan masih tetap dijaga dan diamalkan.

Tradisi Ngaleupeut

Leupuet adalah sejenis makanan tradisional yang terbuat dari ketan yang di rebus dan dibungkus dengan janur kuning. Leuput biasanya berteman dengan kupat, yaitu yang terbuat dari beras dan dimasak padat yang biasanya berbentuk jajaran genjang. Tradisi ini ditengah masyarakat sunda sudah umum adanya. Setiap rebo wekasan pasti banyak kupat yang hilir mudik dari satu rumah ke rumah yang lainnya.

Tradisi ini adalah sebagai bentuk menebar kebaikan dengan memberi sesutu kepada tetangga. Yang tentunya ini banyak dikaitkan dengan bulan safar bulan bala, sehingga ramai-ramai mereka membuat kupat yang kemudian dibagi-bagikan. Saya sendiri belum pernah membuat kupat yang dikhususkan untuk menolak bala pada bulan safar ini. Tapi kalo makan kupatnya sih sering hehe….

Bulan Safar Menurut Pandangan Islam

Dalam beribadah dan menyikapi apa pun, umat Islam diwajibkan mengikuti Al-Quran dan Sunnah Rasul. Amal ibadah yang tidak diperintahkan dan dicontohkan Rasul tidak akan diterima oleh Allah SWT alias mardud (tertolak). Seperti dalam sebuah hadits dikatakan :
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Amalan yang tertolak itu termasuk khurafat (tahayul, mitos, dongeng, cerita rekaan). Khurafat adalah salah satu bentuk penyelewengan dalam akidah Islam. Salah satunya, khurafat berkenaan dengan bulan Safar (Shofar, Shafar). Pada zaman Jahiliyah, ada kepercayaan bahwa bulan Safar adalah bulan sial. Kepercayaan atau mitos/tahayul tersebut langsung dibantah oleh Rasulullah Saw.

Kepercayaan bahwa Safar bulan sial atau bulan bencana masih saja dipercaya sebagian umat. Padahal, Rasul sudah menegaskan mitos itu tidak benar. Dan salah satu amalan khurafat yang muncul ialah “Pesta Mandi Safar”. Jika tiba bulan Safar, umat Islam mengadakan upacara mandi beramai-ramai dengan keyakinan hal itu bisa menghapuskan dosa dan menolak bala. Biasanya, amalan mandi Safar ini dilakukan pada hari Rabu minggu terakhir dalam bulan Safar yang diyakini merupakan hari penuh bencana.

Amalan mandi Safar untuk tolak bala dan menghapus dosa itu merupakan kepercayaan penganut Hindu melalui ritual “Sangam” yang mengadakan upacara penghapusan dosa melalui pesta mandi di sungai. Umat Islam harus menghormati keyakinan mereka, tapi tidak boleh menirunya.

Hingga kini pun masih ada umat Islam yang tidak mau melangsungkan pernikahan pada bulan Safar karena percaya terhadap khurafat tersebut. Sebuah keyakinan yang dapat menjerumuskan kepada jurang kemusyrikan. Bahkan, sampai ada “amalan khusus”, misalnya hari Rabu membaca syahadat tiga kali, istighfar 300 kali, ayat kursi tujuh kali, surat Al-Fiil tujuh kali, dan sebagaiya. Itu semua adalah amalan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat.

Khurafat bulan Safar berikutnya adalah larangan menikah dan pertunangan, menghalangi bermusafir atau berpergian jauh, Rabu minggu terakhir bulan Safar puncak hari sial, upacara ritual menolak bala dan buang sial di pantai, sungai atau rumah (Mandi Safar), membaca jampi serapah tertentu untuk menolak bala sepanjang Safar, menjamu makan makhluk halus yang dikatakan penyebab sesuatu musibah, menganggap bayi lahir bulan Safar bernasib malang, Safar bulan Allah menurunkan kemarahan dan hukuman ke atas dunia. Semuanya itu tidak benar dan umat Islam wajib mengingkari khurafat tersebut.

Berbuat baik tidak hanya dikaitkan untuk menolak bala pada bulan safar saja. Namun kapan dan dimanapun kita senantiasa bisa menebar kebaikan. Semua hari dan bulan adalah baik karena milik Allah semata. Ditangan-Nya lah nasib manusia ditentukan. Tidak ada hal yang luput dari apa yang sudah ditakdirkan. Baik dan buruk hanya Allah yang menentukan.

Semoga bermanfaat dan happy blogging….



Subscribe to this Blog via Email :