Wani Piro, Ideologi Atau Penyakit?

wani piro
gambar dari google
Wani Piro | Pernah liat iklan rokok Djarum 76 di tipi? Jika pernah melihatnya tentunya kita sering mendengar kalimat seperti ini. “Pengen sogokan hilang dari muka bumi”, kemudian dijawab :”bisa diatur, wani piro?.  Yah meskipun tidak ada hubungannya antara rokok dengan kalimat tersebut. Tagline “wani piro” begitu akrab di telinga setiap orang. Ungkapan itu seringkali meluncur bahkan dari mulut anak-anak kecil baik secara serius maupun guyonan. Ketika diperintahkan untuk melakukan suatu pekerjaan misalnya, maka jawaban yang muncul adalah “wani piro”?. Mereka menuntut upah untuk tugas yang dibebankan sehingga yang timbul adalah hilangnya rasa keikhlasan untuk menolong sesama. Secara luasnya dialog tersebut memiliki sebuah makna alias sindiran terhadap perilaku masyarakat mulai dari pejabat pemerintah sampai masyarakat biasa yang selalu UUD  alias ujung-ujungnya duit. Loh kok ujungnya duit, memangnya wani piro itu apa artinya?

Buat sobat blogger yang asli orang jawa tentunya sudah paham tentang arti dari wani piro ini. Wani artinya adalah berani dan piro artinya adalah berapa. Jadi arti dari wani piro adalah “Berani Berapa”. Kalimat ini jelas, yang dimaksud berani berapa adalah berani bayar berapa. Tapi sebenarnya tidak ada yang salah dari kalimat ini jika memang dikaitkan dengan dunia kerja. Sebagai seorang frofesional dalam pekerjaan tentunya harus sesuai apa yang dia kerjakan dengan seberapa besar bayarannya. Dan itu adalah memnag menjadi haknya untuk menerima bayaran sesuai dengan hasil pekerjaannya. Wani piro disini adalah dalam hal yang positif.

Namun wani piro jika dikaitkan dengan berani bayar berapa untuk memuluskan sesuatu maka bisa dikatakan bahwa ini adalah sebuah penyakit akut bangsa ini. Suap atau sogok menyogok biasanya identik dengan kalimat wani piro ini. Jika sudah masuk ranah ini maka setanlah yang biasanya merayu manusia untuk melakukan kesalahan termasuk suap atau korupsi ini, lantas bagaimana kalau setan yang meminta suap? Setan sudah kehilangan pekerjaan dan berekspansi dengan pekerjaan manusia karena pekerjaannya banyak yang telah diambil alih oleh manusia.

Uang kadangkala menjadia berhala yang  begitu dipuja. Karena uang bagi penganut ideology ini adalah segalanya. Pekerjaan tidak akan jalan tanpa uang. Sesuatunya tidak akan lancar tanpa dengan uang. Lalu untuk apa uang itu? Jawabannya kepentingan. Kepentingan manusia mulai dari urusan perut sampai urusan prestise dan aktualisasi. Urusan perut terjadi saat terjadi tawar menawar membeli kebutuhan pokok yang alot dan biasanya diakhiri dengan kalimat, ya sudah Anda berani berapa? Praktek wani piro di sini tentu tidak mendatangkan masalah karena dilakukan terbuka dan tidak ada pihak yang dirugikan.

Nah praktek wani piro yang merugikan terjadi guna melancarkan sesuatu urusan atau masalah meskipun awalnya tersumbat dan bahkan menurut akal adalah tidak mungkin bisa gol. Misalnya kita punya urusan baik bisnis, masalah hukum, pajak, sampai urusan sepele kuncinya adalah duit, dengan lembaran-lembaran duit ini semua menjadi mulus. Praktek wani piro ini terjadi di semua lembaga pemerintahan baik di eksekutif, legislative maupun Judikatif. Berapa banyak gubernur,walikota, bupati, anggota DPR atau DPRD, jaksa, hakim dan pengacara yang masuk penjara karena persoalan uang. Yang lebih parah lagi adalah para pengadil dan penegak hukum tidak luput dari penyakit wani piro ini. Jika penegak hukum saja sudah hilang hati nuraninya, maka “Apa Kata Dunia”?.

Bangsa ini telah menjelma menjadi bangsa yang mewajarkan tradisi “amplop alias angpaw” dalam segala urusannya, meski sebenarnya urusan itu telah tercover dalam anggaran resmi sebuah institusi pemerintahan, ataupun justru tidak perlu diberikan tip karena telah menjadi tanggung jawab pekerjaan seseorang. Beda antara hadiah dan sogokpun menjadi samar dengan tanpa disengaja ataupun tidak.
Banyak urusan hanya bisa lancar dengan uang. Bangsa ini juga lebih menyukai jalan pintas untuk mendapatkan sesuatu dengan menghalalkan segala cara, dibandingkan harus bersusah payah berusaha mendapatkannya dengan cara normal, wajar, dan lebih beradab. Kasus-kasus korupsi yang diekspos berbagai media belakangan ini menunjukan bahwa banyak pejabat dan wakil rakyat negeri ini kehilangan kepekaannya terhadap nasib rakyat dan kepeduliannya kerugian negara.


Banyak kasus-kasus ketidak adilan di negeri ini. Pejabat dan konglomerat yang sudah jelas-jelasa salah dimata publik dengan enaknya sampai saat melenggang bebas. Kuncinya adalah mereka wani piro. Lihatlah bagaimana kasus Century, Hambalang, dan BLBI yang entah menguap sampai dimana kasusnya. Namun jika  yang menjadi korbannya adalah rakyat miskin atau tidak punya pengaruh meskipun kesalahannya tidak seberapa berat . Ketika mereka terjerat kasus hukum sepertinya sulit lolos. Ketidak adilan ini salah satunya adalah disebabkan karena mereka tidak bisa menjawab pertanyaan wani piro?

Entah bagaimana kita dapat memotong idiologi wani piro sehingga tidak terus-terusan merusak pola fikir masyarakat. Yang jelas perlu keputusan politik yang komprehensif yang mencakup kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Yang lebih penting lagi adalah IBDA’ BINAFSIK, atau mulailah dari diri sendiri dengan membentuk budaya jujur. Namun membentuk budaya jujur tidaklah mudah, sesulit menjadi shaim sejati di tengah masyarakat bangsa ini. Tetapi jika gerakan laku jujur ini berjalan dan sukses, tidak ada yang diuntungkan kecuali diri kita sendiri. Ketentraman, kedamaian, keamanan, dan keteraturan sosial akan menjadi atmosfir yang melingkupi kehidupan berkeluarga, bermasyakat dan berbangsa.

Semoga bermanfaat dan happy blogging…..



Reaksi:
Jika Anda merasa bahwa artikel-artikel di blog ini bermanfaat, Anda bisa memberikan donasi melalui Paypal atau dengan Pulsa Dana hasil dari donasi akan digunakan untuk operasioanl Blog Kang Muroi - Terima kasih.

you might ALSO LIKE :

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

131 Responses to "Wani Piro, Ideologi Atau Penyakit?"

  1. Pertamax engga yah? hhehee
    makasih mas informasinya :()

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sob dapet pertamax yah...

      Silakan ambil bonusnya di SPBU terdekat :d

      Delete
    2. tuhkan pasti pertamaxnya jadi incaran haha,,,,yo wes aku terahirnya saja hehe

      Delete
    3. ga papa kang yang penting tetep masih silaturrahim

      makasih kang

      Delete
    4. Saya ikutan parkir disini ya Kang, wani piro...??? hehehe

      Delete
    5. Ikut,,,,,, tapi karena ideologi, uang dah habis. :d

      Delete
    6. wani nongkrong disini juga :)

      Delete
    7. Meramaikan Pjawen,sambil minum (c)

      Delete
    8. Selamat pagi turut serta meramaikan artikel Mas Muroi
      Salam sukses dan sejahtera Mas :))

      Delete
    9. Mampir cangkruk kang sambil (c), wani piro...??? :D

      Delete
    10. cangkruk di perempatan jalan juga enak kang

      Delete
  2. Satu lagi maap OOT.
    Saya kira di layar komputer saya ada semut eh ternyata itu hanya script wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe..iya sob, piara semut, biar rame...

      Delete
    2. Coba kalos miara semutnya banyak mas pasti tambah rame deh :d

      Delete
    3. pengunjung pada kabur kalo gitu sih ;d

      Delete
    4. coba deh monitor'nya di taburin gula,, pasti makin banyak semut'nya.. :))

      Delete
    5. wah kalo gitu jadi gulali dong monitornya :d

      Delete
    6. ya udah di jilat aja sekalian kang monitornya

      Delete
    7. hadeh kaya ga ada jajanan aja mas ;d

      Delete
  3. Wani piro untuk menghilangkan semut di blog ini, wani piro ini memang selalu diidentikan dengan kompensasi dalam makna yang tidak sebenarnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. semutnya masih bingun cari jalan keluar, ntar kalau sudah ketemu jalannya juga hilang sendiri ... :d

      Delete
    2. iya mas kasian juga, muter-muter mlulu ga ketemu-ketemu jalan...

      Delete
    3. Semutnya gk capek-capek ya, kasian juga lama-lama, cari jalan tapi gk ketemu-ketemu soalnya di tutup ma yang punya rumah :D

      Delete
    4. kayak'nya bukan semut deh,, tapi kutu.. :))

      Delete
    5. silakan mas, duduk yang manis :d

      Delete
  4. sudah jamak, sampai level paling renadahpun dipake...

    hhh..wani piro #nantang

    ReplyDelete
  5. wani piro?
    kalau dalam kerjaan prosionalitas memang tak masalah pake wani piro. setuju pak..

    ReplyDelete
  6. Saya ingat ketika ada anekdot ttg ini, mas.

    Jd ceritanya ada seseorang yang menemukan botol berisi jin. Sebagai balas budi, sang jin akan mengabulkan satu permintaan dr orang ini.

    Org ini rupanya org yg idealis dan cinta negri. Jd permintaan yg diajukannya adalah, ia ingin agar negri ini bebas dari praktek suap dan sogok-menyogok.

    Sang jin mikir bentar, trus masuk ke botol dan teriak dari dlm botol, "Mas, tutup lagi aja botolnya!"

    ;-(

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe.. jin aja angkat tangan ya mas....KPK gimana tuh....

      Delete
    2. jadi kapok ketemu manusia indonesia ya , berharap yang menemukan botol orang malesia aja..nanti di kasih duit jinnya

      Delete
    3. Ada juga yg ini, mas.

      Jadi ada org indonesia yg meninggal, trus sm malaikat diajak keliling di langit. Di sana rupanya ada jam dinding yg merefleksikan tingkat korupsi dan suap di suatu negara. Jadi bila level korupsi/suap di negara tsb tinggi, maka jarum jam dr jam tsb akan bergerak cepat. Semakin tinggi, maka perputaran jam itu akan semakin cepat.

      Setelah berkeliling, ternyata baru disadari bhwa jam utk indonesia tdk ada. Setelah diselidiki, ternyata jam utk indonesia di bawah ke dapur... buat kipas!

      Delete
    4. waduh yang ini lebih parah mas :d

      Delete
    5. komentarnya mas Pri 67 bagus lo dibuat postingan hehe...

      Delete
    6. silakan mas, bisa dikembangin lagi ceritanya...

      Delete
    7. anam satu tujuh itu apa mas

      Delete
  7. parahnya nih mas, urusan birokrat ini mesti di ulur-ulur atau di persulit hanya untuk mengejar wani piro tadi.
    kalau guyonan saya sih gini mas " kerja saya kan belum dibayar" NIP saya yang di bayar, jadi malesnya masya Allah deh para birokrat itu.
    eh orang yang kerja di kementrian itu juga birokrat ya ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya birokrat juga mas..emang kenapa gitu, sama sja gitu...

      Delete
    2. tapi mas Zach tidak termasuk kan mas hehe...

      Delete
    3. Insaa Allah ga termasuk mas, masih banyak kok orang baik, insaa Allah termasuk mas Zach...

      Delete
  8. haha iklan djarum, wani piro,, :>)

    ReplyDelete
  9. Nyimak aja dech gan, itung2 tambah ilmu.. :D mkasih ya

    ReplyDelete
  10. Wani piro, diakui atau tidak diakui memang sudah menjadi ideologi di sistem birokrasi kita di setiap level, barangkali untuk menghapusnya melalui usaha yang terus menerus secara berkesinambungan pada jalur pendidikan formal, menanamkan kontra ideologi wani piro, sehingga diharapkan generasi mendatang tidak ada lagi yang menganut ideologi tersebut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. mulai dari diri kita sendiri dulu ya mas, pendidikan di sekolah dengan penanaman budi pekerti, akhlak dan monitoring dari orang tua serta guru tentunya

      Delete
    2. loh kok, siapa yang wani mas.. :d

      Delete
  11. wani piro, eheheh betul mas di negeri ini banyak kasus-kasus ketidak adilan. Pejabat dan konglomerat yang sudah tau salah juga lenggang kangkung sambil cengar - cengar - cengir - cengir :d

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin dipikirnya negara ini milik mereka mang ... :-)

      Delete
    2. yang lain berarti ngontrak ya mas ;((

      Delete
    3. heheh tapi setelah kena yang berwajib. pura - pura sakit :d

      Delete
  12. kalo di indonesia, kayanya trend seperti itu lambat-laun akan terganti dengan yang baru :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya asal yang positif ngga papa kang gantinya

      Delete
    2. insaa Allah jika dari semua pihak mendukung good government mudah-mudahan bisa terwujud kang....

      Delete
  13. hahaha jujur saja saya sering mengucapkan kata kata ini mas.. tapi hanya untuk guyonan saja dengan teman teman sebaya, kalau dengan orang yang lebih tua saya nggak berani, namanya nggak sopan hehehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya kalo buat guyonan ngga papa mas :d

      Delete
    2. coba aja klau berani.. bakal diketok tuh jidat.. wkwkwkw.. :))

      Delete
    3. wedeh kasian mas, kan cuma guyonan tuh.... janagn di getok lah :d

      Delete
  14. Saya malah pernah skak mat petugas yang mau 'wani piro' ke saya ketika ngurus sertifikat tanah. Karena sebelum ngurus saya sudah pelajari dari mbah gugel gimana birkrasi dan apa saja persyaratannya serta pembiayaan, makanya ketika salah satu bagian ngomong masalah slitutan uang, sayapun bisa terlepas dari jeratan birokasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya harus digituin ya mas, skak mat buat penganut wani piro :d

      Delete
  15. wani piro dalam kata bahasa jawa adalah kalimat kasar, suatu sikap angkuh dari sang penanya karena merasa punya power dan kuasa, sehingga sang penanya memasang terget demi menggencet sang mangsanya. Semoga saja korupsi segera hilang dari negara kita, biar rakyatnya bisa hidup sejahtera.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin, kita bisa mulai dari diri kita dulu ya mas, agar meminimalisir menjamurnya korupsi..

      Delete
  16. 'wani piro' yang di lontarkan oleh Jin dalam iklan menggambarkan bahwa sogok menyogok tidak dapat dihilangkan dari muka bumi :d

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah masa manusia kalah sama jin yah, kan lebih sempurna dengan akal yang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang sebaliknya, harusnya loh... :)

      Delete
  17. wani piro,sepertinya memang sudah menjadi tradisi masyarakat negara kita dari dulu sampai sekarang kang.
    gimana mau ngilanginya coba..... :d

    ReplyDelete
    Replies
    1. Susah mas, tapi ya mulai dari kita dulu kali yah, agar mata rantai ini bisa putus

      Delete
  18. sudah tradisi, om
    berakar dari anggah ungguh ala kraton yang kebablasan. dianut oleh birokrat modern yang akhirnya diteladani oleh segala lapisan masyarakat. anehnya kita masih saja suka memandang sebelah mata dengan mereka yang memiliki budaya egaliter hanya karena kultur mereka memang jauh dari sentuhan budaya kraton dengan alasan kampungan dll dll.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin hanya paradigma saja ya mas yang sepertinya harus dirubah...

      Delete
  19. Selamat Malm Mas Muroi wuiih mantap Mas Artikel unik dan menarik
    Judulnya sepintas seperti ucapan Ndeso, tapi kenapa jadi orang Kota ikut-ikutan
    Yah,,? kenapa cob...? :-d yang saya tahu itu datang dan tau dari Iklan TV ya Mas
    Sampai budaya bahasa dari suatu kota bisa jadi cemilan semua orang siip
    Info kreatif salam sukses Mas Muroi :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo ditanya mengapa bisa demikian saya juga kurang tahu kang...yang jelas ucapan ini adalah simbol buat mereka yang men-"tuhan"-kan uang. Segalanya tanpa uang tidak bisa jalan alias macet urusan..dan ini sepertinya sudah jadi penyakit kronis bangsa ini kang, birokrasi yang berbelit-belit dan seperti dipersulit..tapi asal ada duit semua lancar :d

      Delete
  20. Sepertinya hal tersebut sudah menjadi tradisi turun temurun mas, gimana rakyat mau bener kalo pemimpinya yang notabene imam buat rakyatnya juga gak bener. Setidaknya kita tidak ikut-ikutan seperti itu, mungkin bagi kita rakyat lemah tidak bisa merubah orang lain ke jalan benar setidaknya kita tidak melakukan hal sama seperti mereka dengan memulai dari diri sendiri untuk berusaha jujur...

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju Kang Marnes,kalau kita memberi apa yang diminta si "wani piro " secara tidak langsung itu sudah ikut terjerumus kedalamnya.wah bahaya tuhhhhh,,,,,,,

      Delete
    2. ya minimal kita berbuat seperti itu ya kang, tidak memberi hari kepada mereka yang menganut ideologi ini, bisa ga yah....

      Delete
  21. Bisa jadi istilah tersebut pun sering di pakai para penyuap dan para koruptor gan.

    ReplyDelete
  22. Emang istilah itu lagi ngetrend di indonesia...coba kalo di pake di singapur....
    Kondang juga ndak ya.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di singapura, wah kayanya baru masuk perbatasan udah angus mas hehe..

      Delete
  23. Saya salut dengan iklan2 rokok saat ini, meskipun prduknya itu bisa di bilang "Berbahaya" dan"Terlarang", tapi iklan2 mereka selalu menyinggung ketimpangan2 di negeri kita. Kasus korupsi misalnya. Mungkin sudah ada peralihan ya? Dulu, tahun 80-90an, kritik2 buat pemerintah lebih banyak muncul dalam lagu-lagu dan puisis, sastra... sekarang malah ilang.... tapi muncul dalam iklan, heheheheee


    Itu semut ngapain aja di sebelah kanan sana???

    ReplyDelete
    Replies
    1. tujuan iklan kan sudah jelas bang, menarik dan simpel..iklan rokok saat ini sepertinya lebih cenderung ke arah kritik sosialnya....

      Delete
  24. Wani piro padahal kalimate nggak spiro yoh,tapi jadi tenar,ini malah menginspirasi para koruptor generasi baru nih,belum dikerjakan sudah menatakan "wani piro" kasihan korbanya lho,,,hati-hati untuk masyarakat,jangan nurutin si "wani piro

    ReplyDelete
    Replies
    1. Justru sebaliknya kang, iklan ini terinspirasi oleh para koruptor :d

      Delete
  25. hehehe... gara-gara iklan wani piro, jadi ngetren ya.
    mungkin sudah menjadi tradisi, tidak ada uang tidak jalan.

    ReplyDelete
  26. kondisi lah yang mendukung istilah ini menjadi trend :)
    salam silaturahmi

    ReplyDelete
  27. Selamat Petang Mas Muroi datang lagi dan simak lagi
    Wah saya jadi Kaku mau comments apa lagi yah..:-? ?
    Yah sudah salam Sillaturrahim saja yah Mas Muroi
    Semoga baik-baik saja salam sukses dan sejahtera (c)

    ReplyDelete
  28. Kalau saya sih, bisanya ngomong "wani piro" cuman untuk bercanda doang hehe :D

    ReplyDelete
  29. para pemimpin kita telah memberikan teladan yang buruk kepada rakyat kecil dengan perilaku korupsi dan kolusi

    ReplyDelete
  30. sudah mendarah daging mas, dari kalangan orang tua hingga anak anak, ucapan tersebut sedah menjadi ucapan yang secara spontan keluar ( terutama waktu becanda ) 8-)

    ReplyDelete
  31. kunjungan lakam sob...gikana kabar nya sob....ngomongin wani piro.....kalo ane wani komen aja sob..hee..heeee

    ReplyDelete
  32. sedih kalau wanipiro jadi tradisi....

    ReplyDelete
  33. Wani piro kiasan yang tak terucap namun bisa dapat dirasakan dampaknnya Kang, baik langsung kenyang atau sampai dengan yang berelbihan ya ? :d :d :d

    ReplyDelete
  34. Sepertinya wani piro ini warisan Kompeni Mas... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. warisan turun temurun yang dilestarikan ya mas :d

      Delete
    2. hahaha bisa jadi gan soalnya udah mendarah daging tuh kalimat :D

      Delete
  35. saya pernah menulis status di FB yang terkait dengan wani piro yang sudah menjadi penyakit hati para pejabat di Indonesia...begini status saya tsb
    sesungguhnya upah diluar gaji dalam kewajiban melakukan tugas sebagai bagian dari pekerjaan bukanlah rezeki yang mesti diterima >hw19122013<

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang lagi hangat yang mau nikahan ya mas, wanipiro ngundang pengulunya

      Delete
  36. aku pernah nonton iklan jarum 76 itu, sindirannya memang kencang banget, tapi saya tidak tahu apakah ada orang indonesia yang merasa tersindir, karena buktinya koruptor makin merajalela di negri ini ,
    salam dari Kalimantan Selatan :-)

    ReplyDelete
  37. bagus artikelnya mas muroi (h)
    ane nyimak aja lah

    ReplyDelete
  38. sepertinya budaya wani piro perlu di bumi hangus kan agar tindakan korupsi bisa hilang dari negeri ini :)

    ReplyDelete
  39. kayak'nya kondisi di Indonesia makin hari makin banyak yang serakah,, kalau mau lancar urusan wani piro..? hehehe.. :D

    ReplyDelete
  40. Artikel yang menarik :) Salam Kenal ya :D

    Cyber4rd.blogspot.com

    ReplyDelete
  41. bener bang..
    sudah saatnya wani piro ini diberangus!! biar ngga ada lagi sogok-menyogok :D

    ReplyDelete
  42. ingin jadi wakil rakyat nomor urut ditentukan berdasarkan besar uang yang disetorkan ke partai,
    entah yang lelang jabatan ya mas apa juga termasuk kategori dalam tulisan ini juga ya?

    ReplyDelete
  43. dalam sogot menyogok mungkin sering kita temui di lingkungan sekitar,,, tapi bagaimana pendapat agan bila hal ini di lakukan disekolahan..???

    ReplyDelete
  44. wani piro sudah mendarah daging pada kita swmua kayaknya nie

    ReplyDelete
  45. Wani piro:Di iklan rokok malah bikin ngakak.Tapi wani piro di lingkungan pejabat yang ingin meloloskan kepentingan nya ,bikin panas telapak tangan (o)

    ReplyDelete
  46. mpun dados adat 7 turunan 8 tanjakan, nunggu ke-turunan 8 menawi owah.....he.he.he...

    ReplyDelete
  47. Seperti biasa, kunjungan rutin Mas.. :)

    ReplyDelete
  48. Sambil jalan-jalan mampir lagi di artikel Mas Muroi
    Dan sambil tengok kiri kanan saling bersilaturahim
    Salam sukses sejahtera Mas [-(

    ReplyDelete
  49. mampir lagi as muroi,,
    sambil nunggu postingan terbarunya :-)

    ReplyDelete
  50. tapi bisa jadi malah iklan itu terinspirasi oleh taglaine para koruptor itu cik...

    ReplyDelete
  51. Kalo wani piro itu kayak Om jin ya hehehe :D
    Follow Blog KU ya

    ReplyDelete
  52. Wani piro? Hoho. Memang sulit membasmi ini. Sebab semuanya diukur dengan materi materi dan materi. Adakah cara untuk membasminya? Saya yakin ada. Coba kita mulai dari diri kita sendiri, untuk melakukan segala kebaikan tanpa pamrih, serta mengajarkan keikhlasan pada calon-calon penerus bangsa ini ...

    ReplyDelete
  53. wah mantep nih, kalimat itu udah ga asing lagi di smua kalangan gan

    ReplyDelete
  54. wah thanks banget mas buat informasinya :)

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel