Terjemah Muthola'ah Kelas 3 KMI #3: Petani dan Lobak

Terjemah Muthola'ah Kelas 3 KMI #3: Petani dan Lobak
Petani dan Lobak

Muthola’ah adalah sebuah metode pembelajaran yang unik di pesantren. Dalam pelajaran ini, kita diajak untuk membaca, memahami, dan mengkaji kitab-kitab klasik berbahasa Arab. Kitab-kitab ini berisi pengetahuan mendalam tentang ajaran Islam. Melalui Mutholaah, kita belajar menerjemahkan dan menafsirkan teks-teks berbahasa Arab dengan benar.

Muthola’ah memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan pesantren. Pelajaran ini membantu kita memahami sumber-sumber utama ajaran Islam seperti Al-Quran dan Hadits. Dengan mempelajari Mutholaah, kita bisa menggali makna yang lebih dalam dari ajaran agama. Hal ini membuat pemahaman kita tentang Islam menjadi lebih kuat dan menyeluruh.

Dan berikut ini adalah teks Muthola'ah Kelas 3 KMI yang berharakat lengkap beserta terjemahan bagian 3 yang membahas tentang seorang petani yang miskin namun mempunyai hati yang dermawan dan ikhlas. Ikuti kisahnya berikut ini.


الْفَلَّاحُ وَاللِّفْتُ

كَانَ لِفَلَّاحٍ فَقِيرٍ حَقْلٌ صَغِيرٌ يَزْرَعُ فِيهِ اللِّفْتَ. وَكَانَ ذَلِكَ الْفَلَّاحُ مُجْتَهِدًا لَا يَـمَلُّ مِنَ الْعَمَلِ فِي خِدْمَةِ أَرْضِهِ، حَتَّى أَتَى زَرْعُهُ بِحَاصِلٍ جَيِّدٍ يُنَاسِبُ عَمَلَهُ، وَوَجَدَ مِنْ بَيْنِهِ لِفْتَةً كَبِيرَةً لَمْ يَرَ مِثْلَهَا مِنْ قَبْلُ، فَفَكَّرَ فِي أَنْ يُهْدِيَهَا لِحَاكِمِ الْقَرْيَةِ. فَلَمَّا قَدَّمَهَا إِلَيْهِ قَبِلَهَا مَسْرُورًا مِنَ اجْتِهَادِهِ، وَكَافَأَهُ بِـجُنَيْهَيْنِ تَشْجِيعًا لَهُ عَلَى الْعَمَلِ

فَسَمِعَ بِذَلِكَ فَلَّاحٌ غَنِيٌّ جَشِعٌ، فِي الْقَرْيَةِ نَفْسِهَا، فَحَسَدَ الْفَقِيرَ عَلَى مَا نَالَهُ مِنَ الْعَطَاءِ، وَقَالَ فِي نَفْسِهِ: "إِذَا قَدَّمْتُ إِلَى الْحَاكِمِ أَحْسَنَ نِعَاجِي، فَلَابُدَّ أَنْ يُجْزِلَ لِي الْعَطَاءَ عَلَيْهَا، فَأَرْبَحَ أَكْثَرَ مِنْ ثَمَنِهَا أَضْعَافًا"

فَجَاءَ بِهَا إِلَى الْحَاكِمِ، وَرَجَا مِنْهُ أَنْ يَقْبَلَ الْهَدِيَّةَ. فَأَبَى الْحَاكِمُ، لِمَا يَعْلَمُ فِي الرَّجُلِ مِنَ الْأَثَرَةِ وَالطَّمَعِ. فَأَلَحَّ عَلَيْهِ الرَّجُلُ، وَرَجَا مِنْهُ أَنْ يَقْبَلَهَا. فَقَالَ الْحَاكِمُ: "مَادُمْتَ تُلِحُّ عَلَى قَبُولِ هَدِيَّتِكَ، فَأَنَا أَقْبَلُهَا، عَلَى أَنْ أُعْطِيَكَ شَيْئًا أَنْفَقْتُ فِيهِ ضِعْفَ ثَمَنِ نَعْجَتِكَ". فَأَبْرَقَتْ عَيْنَا الرَّجُلِ فَرَحًا بِهَذَا الْكَلَامِ اللَّطِيفِ، وَظَنَّ أَنَّ الْهَدِيَّةَ تَعْوِيضُهُ أَكْثَرَ مِمَّا أَنْفَقَ

ثُمَّ أَهْدَاهُ الْحَاكِمُ اللِّفْتَةَ، فَانْقَلَبَ فَرَحُهُ تَرَحًا، وَأَخَذَهَا وَانْصَرَفَ نَادِمًا عَلَى خَسَارَةِ نَعْجَتِهِ.

المُفْرَدَاتُ

اللِّفْتُ : Lobak
مُجْتَهِدًا : Bersungguh-sungguh / giat
بِـجُنَيْهَيْنِ : Dua koin pound / dua koin emas
جَشِعٌ : Serakah / tamak
فَحَسَدَ : Maka ia merasa dengki / iri
نِعَاجِي : Domba-domba betinaku
يُجْزِلَ : Memberi banyak / melimpahkan
الْأَثَرَةِ : Sifat egois / mementingkan diri sendiri
فَأَلَحَّ : Maka ia mendesak / meminta dengan sangat
فَأَبْرَقَتْ : Maka berbinar / berkilau (matanya)
تَعْوِيضُهُ : Ganti rugi untuknya / kompensasinya
تَرَحًا : Kesedihan / duka

Petani dan Lobak

Seorang petani miskin memiliki ladang kecil tempat ia menanam lobak. Petani itu sangat giat bekerja dan tidak pernah merasa bosan dalam mengelola tanahnya. Hingga suatu ketika, tanamannya menghasilkan panen yang sangat baik, sebanding dengan kerja kerasnya. 

Di antara hasil panen tersebut, ia menemukan sebutir lobak yang sangat besar dan belum pernah ia lihat jenis seperti itu sebelumnya. Ia pun berpikir untuk menghadiahkannya kepada penguasa desa. Ketika ia menyerahkan lobak itu, sang penguasa menerimanya dengan gembira atas kegigihan si petani, lalu mengganjarnya dengan hadiah dua koin emas sebagai bentuk penghargaan atas kerja kerasnya.

Seorang petani kaya yang serakah di desa yang sama mendengar kabar tersebut. Ia pun merasa iri kepada si petani miskin atas hadiah yang telah diperolehnya. Petani kaya itu berkata di dalam hatinya, "Jika aku mempersembahkan domba betina terbaikku kepada penguasa, tentu ia akan memberikan hadiah yang lebih melimpah kepadaku, sehingga aku bisa mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari harga domba tersebut."

Ia pun membawa domba itu menghadap penguasa dan memohon agar ia bersedia menerima hadiahnya. Namun, sang penguasa menolak karena ia mengetahui sifat egois dan ketamakan yang ada pada diri pria itu. Pria itu terus mendesak dan memohon agar sang penguasa mau menerimanya.

Akhirnya penguasa berkata, "Karena kamu terus mendesak agar hadiahmu diterima, maka aku akan menerimanya dengan syarat aku akan memberikan kepadamu sesuatu yang telah aku tebus dengan harga dua kali lipat dari harga dombamu." Mata pria itu langsung berbinar gembira mendengar perkataan yang menyenangkan tersebut. Ia mengira bahwa hadiah yang akan diterimanya adalah ganti rugi yang jauh lebih banyak daripada apa yang telah ia keluarkan.

Kemudian, sang penguasa menyerahkan lobak besar itu kepadanya. Seketika itu juga kegembiraannya berubah menjadi kedukaan. Ia pun mengambil lobak tersebut dan pergi berlalu dengan perasaan sangat menyesal atas kerugian karena kehilangan domba betinanya

Post a Comment for "Terjemah Muthola'ah Kelas 3 KMI #3: Petani dan Lobak"