Terjemah Muthola'ah Kelas 3 KMI #13: Kawanan Tikus
Kawanan tikus Muthola’ah adalah sebuah metode pembelajaran yang unik di pesantren. Dalam pelajaran ini, kita diajak untuk membaca…
![]() |
| Kawanan tikus |
Muthola’ah adalah sebuah metode pembelajaran yang unik di pesantren. Dalam pelajaran ini, kita diajak untuk membaca, memahami, dan mengkaji kitab-kitab klasik berbahasa Arab. Kitab-kitab ini berisi pengetahuan mendalam tentang ajaran Islam. Melalui Mutholaah, kita belajar menerjemahkan dan menafsirkan teks-teks berbahasa Arab dengan benar.
Muthola’ah memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan pesantren. Pelajaran ini membantu kita memahami sumber-sumber utama ajaran Islam seperti Al-Quran dan Hadits. Dengan mempelajari Mutholaah, kita bisa menggali makna yang lebih dalam dari ajaran agama. Hal ini membuat pemahaman kita tentang Islam menjadi lebih kuat dan menyeluruh.
Dan berikut ini adalah teks Muthola'ah Kelas 3 KMI yang berharakat lengkap beserta terjemahan bagian 13 yang menceritakan tentang seorang pria yang mendapat pelajaran berharga dari kawanan tikus yang melintas.
جَمَاعَةُ الفِئْرَانِ
كَانَ رَجُلٌ مَاشِيًا فِي حَقْلٍ فِي لَيْلَةٍ مُقْمِرَةٍ، يُمَتِّعُ نَفْسَهُ بِجَمَالِ الطَّبِيعَةِ فِي ذَلِكَ الوَقْتِ الهَادِئِ، الَّذِي امْتَزَجَ فِيهِ بَيَاضُ ضَوْءِ القَمَرِ بِخُضْرَةِ الزَّرْعِ. فَرَأَى جَمَاعَةً مِنَ الفِئْرَانِ سَائِرَةً فِي طَرِيقٍ وَاحِدَةٍ، فَتَعَجَّبَ مِنْ هَذَا المَنْظَرِ النَّادِرِ المِثَالِ، وَوَقَفَ يَنْظُرُ إِلَيْهَا مِنْ بَعْدٍ. فَشَاهَدَ فِي وَسَطِ الجَمْعِ، فَأْرَةً كَبِيرَةً عَمْيَاءَ، قَابِضَةً عَلَى طَرَفِ عُودٍ يَابِسٍ بِأَسْنَانِهَا، وَبِجَانِبِهَا فَأْرَةٌ أُخْرَى صَغِيرَةٌ، لَهَا عَيْنَانِ بَرَّاقَتَانِ، وَقَدْ أَمْسَكَتِ العُودَ مِنْ طَرَفِهِ الثَّانِي، لِتَقُودَ تِلْكَ الفَأْرَةَ العَجُوزَ الضَّرِيرَةَ، إِلَى حَيْثُ يَتَوَجَّهُ الجَمْعُ
فَانْظُرْ كَيْفَ أَلْهَمَ اللهُ ذَلِكَ الحَيَوَانَ الأَعْجَمَ، وَعَلَّمَهُ أَنْ يُعَاوِنَ القَوِيُّ مِنْهُ الضَّعِيفَ. وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ يَقْعُدُ الإِنْسَانُ العَاقِلُ، عَنْ مَدِّ يَدِ المَعُونَةِ وَالمُسَاعَدَةِ، إِلَى ذَوِي الحَاجَةِ مِنْ بَنِي جِنْسِهِ؟ كَلَّا!! فَإِنَّ قَوِيَّ اليَوْمِ، لَابُدَّ أَنْ يُمْسِيَ ضَعِيفًا غَدًا. وَمَتَى عَاوَنَ المَرْءُ القَوِيُّ أَخَاهُ الضَّعِيفَ، وَجَدَ مُعِينًا إِذَا نَزَلَ بِهِ الضُّعْفُ. وَاللهُ فِي عَوْنِ العَبْدِ، مَادَامَ العَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
المُفْرَدَاتُ
مُقْمِرَةٍ : Terang bulan / bercahaya bulanيُمَتِّعُ : Memanjakan / menyenangkan
امْتَزَجَ : Bercampur / berpadu
النَّادِرِ المِثَالِ : Tiada duanya / sangat langka
عَمْيَاءَ / الضَّرِيرَةَ : Buta (tidak dapat melihat)
عُودٍ يَابِسٍ : Tangkai kering / kayu kering
بَرَّاقَتَانِ : Berkilau / bersinar cerah
لِتَقُودَ : Untuk menuntun / memandu
أَلْهَمَ : Mengilhami / memberi ilham
الأَعْجَمَ : Binatang (yang tidak dapat berbicara)
يَقْعُدُ : (Dalam konteks ini) Enggan / berpangku tangan
مَدِّ يَدِ المَعُونَةِ : Mengulurkan tangan bantuan
يُمْسِيَ : Menjadi (di masa mendatang)
مُعِينًا : Penolong / pembantu
Kawanan Tikus
Seorang pria sedang berjalan di ladang pada malam yang terang bulan. Ia memanjakan dirinya dengan keindahan alam pada waktu yang tenang itu, saat putihnya cahaya bulan berpadu dengan hijaunya tanaman. Tiba-tiba, ia melihat sekawanan tikus sedang berjalan di satu jalan yang sama. Ia pun takjub melihat pemandangan yang sangat langka tersebut, lalu berdiri mengamatinya dari kejauhan.Di tengah-tengah kawanan itu, ia melihat seekor tikus besar yang buta sedang menggigit ujung ranting kering dengan giginya. Di sampingnya, ada tikus lain yang masih kecil dan memiliki sepasang mata yang berkilau. Tikus kecil itu memegang ujung ranting yang satunya lagi untuk menuntun tikus tua yang buta tersebut ke arah mana kawanan itu pergi.
Maka lihatlah bagaimana Allah memberikan ilham kepada binatang yang tidak dapat berbicara itu, serta mengajarkannya agar yang kuat di antara mereka membantu yang lemah. Setelah melihat hal tersebut, akankah manusia yang berakal justru berpangku tangan dan enggan mengulurkan tangan bantuan kepada sesama jenisnya yang membutuhkan? Tentu tidak! Sebab, orang yang kuat pada hari ini pasti akan menjadi lemah di hari esok.
Maka lihatlah bagaimana Allah memberikan ilham kepada binatang yang tidak dapat berbicara itu, serta mengajarkannya agar yang kuat di antara mereka membantu yang lemah. Setelah melihat hal tersebut, akankah manusia yang berakal justru berpangku tangan dan enggan mengulurkan tangan bantuan kepada sesama jenisnya yang membutuhkan? Tentu tidak! Sebab, orang yang kuat pada hari ini pasti akan menjadi lemah di hari esok.
Ketika seseorang yang kuat mau membantu saudaranya yang lemah, ia pun pasti akan mendapatkan penolong saat kelemahan itu datang menimpanya. Dan Allah akan senantiasa menolong seorang hamba, selama hamba tersebut mau menolong saudaranya.

Post a Comment for "Terjemah Muthola'ah Kelas 3 KMI #13: Kawanan Tikus"