Muthola'ah Kelas 5 KMI Beserta Terjemahannya #1: Mengingkari Kebaikan
Mengingkari Kebaikan Muthola’ah memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan pesantren. Pelajaran ini membantu kita memaha…
![]() |
| Mengingkari Kebaikan |
Muthola’ah memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan pesantren. Pelajaran ini membantu kita memahami sumber-sumber utama ajaran Islam seperti Al-Quran dan Hadits. Dengan mempelajari Mutholaah, kita bisa menggali makna yang lebih dalam dari ajaran agama. Hal ini membuat pemahaman kita tentang Islam menjadi lebih kuat dan menyeluruh.
Dan berikut ini adalah teks Muthola'ah Kelas 5 KMI yang berharakat lengkap beserta terjemahan bagian 1 dengan judul mengingkari kebaikan.
نُكْرَانُ الْجَمِيلِ
كَانَ أَمِيرٌ هِنْدِيٌّ مُغْرَمًا بِالتَّجْدِيفِ، وَاتَّفَقَ ذَاتَ يَوْمٍ أَنْ أَوْقَعَهُ سُوءُ حَظِّهِ فِي النَّهْرِ، فَأَشْرَفَ عَلَى الْغَرَقِ، لَوْلَا أَنَّ عَبْدًا تَدَارَكَهُ، وَأَلْقَى بِنَفْسِهِ فِي الْبَحْرِ وَرَاءَهُ، وَأَمْسَكَ بِهِ وَحَمَلَهُ إِلَى الشَّاطِئِ، وَهُوَ فِي غَشْيَةٍ مِنَ الرُّعْبِ، وَمِنَ الْمَاءِ الَّذِي ابْتَلَعَهُ. وَلَمَّا أَفَاقَ أَرْسَلَ فِي إِحْضَارِ مَنْ نَجَّاهُ، فَإِذَا هُوَ عَبْدٌ. فَقَالَ لَهُ الْأَمِيرُ: "كَيْفَ تَجْرَأُ أَنْ تَمَسَّ سَيِّدَكَ الطَّاهِرَ الْمُقَدَّسَ، بِتِلْكَ الْيَدِ النَّجِسَةِ الذَّلِيلَةِ؟" فَقَالَ الْعَبْدُ: "إِنَّمَا فَعَلْتُ ذَلِكَ يَا مَوْلَايَ لِأُنْقِذَكَ مِنَ الْغَرَقِ". فَقَالَ الْأَمِيرُ: "لَقَدْ لَوَّثْتَ بَدَنِي أَيُّهَا الْعَبْدُ الْوَضِيعُ، وَلَيْسَ لَكَ عِنْدِي إِلَّا الْإِعْدَامُ جَزَاءَ تَبَجُّحِكَ"
وَبَعْدَ ذَلِكَ بِـمُدَّةٍ قَصِيرَةٍ، خَرَجَ الْأَمِيرُ يُجَدِّفُ كَعَادَتِهِ، وَحَاوَلَ الِانْتِقَالَ مِنْ زَوْرَقٍ إِلَى آخَرَ، فَهَوَى بَيْنَ الزَّوْرَقَيْنِ، وَلَمْ يَسْعَ أَحَدٌ لِإِنْقَاذِهِ. فَصَاحَ وَاسْتَغَاثَ، وَلَا مُجِيبَ وَلَا مُغِيثَ. وَلَكِنَّ صَوْتًا رَنَّ فِي أُذُنَيْهِ حَتَّى كَادَ يُصَمِّمُهُمَا، وَهُوَ يَقُولُ: "هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ! بَعْدَ عَمَلٍ مِنْكَ قَدْ فَاتَ، فَذُقْ كَأْسَ الْمَمَاتِ"
فَقَذَفَهُ الْيَمُّ وَابْتَلَعَهُ الْبَحْرُ وَمَاتَ غَرِيقًا، يَلْقَى عَذَابَهُ مِنْ خَالِقِ تِلْكَ النَّفْسِ الْبَرِيئَةِ، الَّتِي قَتَلَهَا بِجُحُودِهِ وَكُفْرَانِهِ
المُفْرَدَاتُ
نُكْرَانُ : Pengingkaran / tidak tahu berterima kasihمُغْرَمًا : Sangat menyukai / gemar
بِالتَّجْدِيفِ : Mendayung
تَدَارَكَهُ : Menyelamatkannya (tepat waktu)
غَشْيَةٍ : Keadaan pingsan / tidak sadar
الرُّعْبِ : Ketakutan yang amat sangat
أَفَاقَ : Siuman / sadar kembali
تَجْرَأُ : Berani / lancang
الْوَضِيعُ : Rendah derajatnya / hina
الْإِعْدَامُ : Hukuman mati
تَبَجُّحِكَ : Keangkuhanmu / kelancanganmu
زَوْرَقٍ : Perahu kecil / sampan
فَهَوَى : Lalu ia jatuh / terperosok
اسْتَغَاثَ : Meminta pertolongan
هَيْهَاتَ : Sudah terlambat / mustahil
الْيَمُّ : Lautan / air yang luas
بِجُحُودِهِ : Karena pengingkarannya
Mengingkari Kebaikan
Ada seorang pangeran India yang sangat gemar mendayung. Suatu hari, nasib buruk menimpanya hingga ia jatuh ke sungai dan hampir tenggelam. Beruntung, seorang budak segera menyelamatkannya. Budak itu melompat ke air di belakang pangeran, lalu merangkul dan membawanya ke tepi pantai dalam keadaan pingsan akibat ketakutan yang amat sangat serta air yang sempat tertelan olehnya.Setelah siuman, pangeran meminta agar orang yang telah menyelamatkannya itu dihadapkan kepadanya. Ketika mengetahui bahwa penolongnya adalah seorang budak, pangeran itu membentaknya, "Berani sekali kamu menyentuh tuanmu yang suci dan agung ini dengan tanganmu yang najis dan hina itu?!" Budak itu menjawab, "Hamba melakukan itu semata-mata demi menyelamatkan Anda dari kematian, wahai Tuanku." Pangeran membalas, "Kamu telah mengotori tubuhku, wahai budak yang rendah! Tidak ada balasan yang pantas untuk kelancanganmu ini selain hukuman mati."
Tidak lama setelah peristiwa itu, sang pangeran pergi mendayung seperti biasanya. Saat mencoba berpindah dari satu perahu ke perahu lainnya, ia terperosok ke celah di antara kedua perahu tersebut. Kali ini, tidak ada satu orang pun yang bergerak untuk menyelamatkannya. Pangeran berteriak meminta bantuan, tetapi tidak ada yang menjawab maupun menolongnya. Namun, sebuah suara mendengung di telinganya dengan sangat keras hingga hampir menulikan pendengarannya. Suara itu berkata, "Sudah terlambat, sudah terlambat! Penyesalan setelah perbuatanmu yang lalu kini tiada berguna. Sekarang, rasakanlah cawan kematian!"
Lautan pun mengempaskannya dan air menelan tubuhnya hingga ia mati tenggelam. Ia menerima balasan azab dari Pencipta jiwa yang suci, yang telah ia bunuh dahulu karena keangkuhan dan rasa tidak tahu berterima kasihnya.
----------------------

Post a Comment for "Muthola'ah Kelas 5 KMI Beserta Terjemahannya #1: Mengingkari Kebaikan"