Muthola'ah Kelas 4 KMI dan Terjemahnya #4: Maukah Engkau Berjanji Kepadaku untuk Meninggalkan Dusta?
Janji meninggalkan dusta Muthola’ah adalah sebuah metode pembelajaran yang unik di pesantren. Dalam pelajaran ini, kita diajak un…
![]() |
| Janji meninggalkan dusta |
Muthola’ah adalah sebuah metode pembelajaran yang unik di pesantren. Dalam pelajaran ini, kita diajak untuk membaca, memahami, dan mengkaji kitab-kitab klasik berbahasa Arab. Kitab-kitab ini berisi pengetahuan mendalam tentang ajaran Islam. Melalui Mutholaah, kita belajar menerjemahkan dan menafsirkan teks-teks berbahasa Arab dengan benar.
Muthola’ah memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan pesantren. Pelajaran ini membantu kita memahami sumber-sumber utama ajaran Islam seperti Al-Quran dan Hadits. Dengan mempelajari Mutholaah, kita bisa menggali makna yang lebih dalam dari ajaran agama. Hal ini membuat pemahaman kita tentang Islam menjadi lebih kuat dan menyeluruh.
Dan berikut ini adalah teks Muthola'ah Kelas 4 KMI yang berharakat lengkap beserta terjemahan bagian 4 yang menceritakan tentang seseorang yang ingin memluk agama islam, namun diminta oleh Rasulullah untuk meninggalkan dusta.
هَلْ تَعَاهَدُنِي عَلَى تَرْكِ الْكِذْبِ
تَقَدَّمَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ يُرِيدُ الْإِسْلَامَ فَبَعْدَ أَنْ نَطَقَ بِالشَّهَادَةِ قَالَ: "إِنِّي أَقْتَرِفُ مِنَ الذُّنُوبِ يَا رَسُولَ اللهِ مَا لَا أَسْتَطِيعُ تَرْكَهُ" فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "هَلْ تَعَاهَدُنِي عَلَى تَرْكِ الْكِذْبِ" قَالَ "نَعَمْ" ثُمَّ عَاهَدَهُ عَلَى ذَلِكَ وَانْصَرَفَ وَهُوَ يَقُولُ فِي نَفْسِهِ "مَا أَهْوَنَ مَا طَلَبَ مِنِّي هَذَا النَّبِيُّ الْكَرِيمُ"
فَلَمَّا أَرَادَ الرَّجُلُ بَعْدَ ذَلِكَ أَنْ يَسْرِقَ قَالَ فِي نَفْسِهِ "إِنْ سَرَقْتُ وَسَأَلَنِي الرَّسُولُ فَمَاذَا يَكُونُ جَوَابِي إِنْ أَجَبْتُ بِنَعَمْ فَقَدْ حَقَّ عَلَيَّ الْعِقَابُ وَإِنْ أَجَبْتُ بِلَا فَقَدْ كَذَبْتُ وَقَدْ عَاهَدْتُهُ عَلَى تَرْكِ الْكِذْبِ إِذَنْ فَخَيْرٌ لِي أَنْ أَبْتَعِدَ عَنِ السَّرِقَةِ"
فَابْتَعَدَ عَنْهَا وَصَارَ بَعْدَ ذَلِكَ يَتَذَكَّرُ عَهْدَهُ كُلَّمَا حَدَّثَتْهُ نَفْسُهُ بِارْتِكَابِ إِثْمٍ فَيَبْتَعِدُ عَنْهُ حَتَّى صَلُحَ حَالُهُ وَصَارَ مِنْ خِيَارِ النَّاسِ الْعَامِلِينَ عَلَى نُصْرَةِ الدِّينِ وَالتَّمَسُّكِ بِهِ وَبِفَضَائِلِهِ
المُفْرَدَاتُ
تَقَدَّمَ : Mendatangi / maju mendekatنَطَقَ : Mengucapkan / melafalkan
أَقْتَرِفُ : Aku melakukan / memperbuat (biasanya untuk perbuatan dosa)
تَعَاهَدُنِي : Engkau berjanji kepadaku / saling mengikat janji denganku
تَرْكِ : Meninggalkan
الْكِذْبِ : Dusta / berbohong
وَانْصَرَفَ : Dan dia pergi berlalu / berbalik pulang
مَا أَهْوَنَ : Alangkah mudahnya / betapa ringannya
حَقَّ عَلَيَّ : Pastilah bagiku / sudah sepantasnya menimpaku
الْعِقَابُ : Hukuman / siksaan
فَخَيْرٌ لِي : Maka lebih baik bagiku
حَدَّثَتْهُ نَفْسُهُ : Jiwanya membisikinya / hatinya berhasrat
بِارْتِكَابِ : Untuk melakukan / melakukan pelanggaran
إِثْمٍ : Dosa / kesalahan
صَلُحَ : Menjadi baik / membaik
خِيَارِ : Orang-orang pilihan / orang-orang terbaik
نُصْرَةِ : Menolong / membela / memperjuangkan
وَالتَّمَسُّكِ : Dan berpegang teguh
وَبِفَضَائِلِهِ : Dan dengan keutamaan-keutamaannya
Ketika pria itu hendak mencuri setelah kejadian tersebut, ia bergumam dalam hati, "Jika aku mencuri lalu Rasulullah bertanya kepadaku, apa yang akan menjadi jawabanku? Jika aku menjawab 'ya', maka aku pasti akan dijatuhi hukuman. Namun, jika aku menjawab 'tidak', berarti aku telah berbohong, padahal aku telah berjanji kepada beliau untuk meninggalkan dusta. Oleh karena itu, lebih baik bagiku untuk menjauh dari pencurian ini."
Ia pun mengurungkan niatnya. Sejak saat itu, setiap kali hatinya berhasrat untuk melakukan suatu dosa, ia selalu teringat akan janjinya tersebut lalu menjauhinya. Hal ini terus berlangsung hingga keadaan dirinya membaik dan ia tumbuh menjadi salah satu orang pilihan yang turut berjuang membela agama, serta teguh memegang prinsip dan keutamaan-keutamaannya.
فَخَيْرٌ لِي : Maka lebih baik bagiku
حَدَّثَتْهُ نَفْسُهُ : Jiwanya membisikinya / hatinya berhasrat
بِارْتِكَابِ : Untuk melakukan / melakukan pelanggaran
إِثْمٍ : Dosa / kesalahan
صَلُحَ : Menjadi baik / membaik
خِيَارِ : Orang-orang pilihan / orang-orang terbaik
نُصْرَةِ : Menolong / membela / memperjuangkan
وَالتَّمَسُّكِ : Dan berpegang teguh
وَبِفَضَائِلِهِ : Dan dengan keutamaan-keutamaannya
Maukah Engkau Berjanji Kepadaku untuk Meninggalkan Dusta?
Seorang pria yang ingin memeluk agama Islam datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, ia berkata, "Sesungguhnya aku kerap melakukan perbuatan dosa yang tidak mampu aku tinggalkan, wahai Rasulullah." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian bertanya, "Maukah engkau berjanji kepadaku untuk meninggalkan dusta?" Pria itu menjawab, "Ya." Ia pun mengikat janji dengan beliau atas hal tersebut, lalu pergi berlalu sambil berkata di dalam hatinya, "Betapa ringannya apa yang diminta oleh Nabi yang mulia ini dariku."Ketika pria itu hendak mencuri setelah kejadian tersebut, ia bergumam dalam hati, "Jika aku mencuri lalu Rasulullah bertanya kepadaku, apa yang akan menjadi jawabanku? Jika aku menjawab 'ya', maka aku pasti akan dijatuhi hukuman. Namun, jika aku menjawab 'tidak', berarti aku telah berbohong, padahal aku telah berjanji kepada beliau untuk meninggalkan dusta. Oleh karena itu, lebih baik bagiku untuk menjauh dari pencurian ini."
Ia pun mengurungkan niatnya. Sejak saat itu, setiap kali hatinya berhasrat untuk melakukan suatu dosa, ia selalu teringat akan janjinya tersebut lalu menjauhinya. Hal ini terus berlangsung hingga keadaan dirinya membaik dan ia tumbuh menjadi salah satu orang pilihan yang turut berjuang membela agama, serta teguh memegang prinsip dan keutamaan-keutamaannya.
Pesan Moral
Kisah di atas mengandung beberapa pesan moral dan kesimpulan penting yang sangat mendalam mengenai pembentukan akhlak, di antaranya:- Kejujuran adalah fondasi dari segala kebaikan: Sifat jujur (ash-shidiq) bukan sekadar ucapan, melainkan sebuah benteng kokoh yang mampu mencegah seseorang dari berbagai tindakan maksiat lainnya, seperti mencuri atau berbuat jahat.
- Menjaga komitmen dan janji: Memegang teguh janji yang telah diucapkan kepada orang lain—terutama kepada sosok yang dihormati atau dalam prinsip agama—dapat menjadi pengingat (remind) yang kuat bagi hati nurani saat menghadapi godaan buruk.
- Perubahan besar dimulai dari satu langkah kecil: Untuk memperbaiki diri yang penuh dengan kebiasaan buruk, kita tidak harus mengubah semuanya sekaligus dalam satu waktu. Fokus pada satu komitmen kebaikan yang konsisten (seperti tidak berbohong) secara bertahap akan menuntun pada perbaikan seluruh lini kehidupan.
- Introspeksi diri sebelum bertindak: Pria dalam kisah tersebut memberi contoh pentingnya berpikir logis mengenai konsekuensi dari setiap perbuatan sebelum melakukannya, sehingga ia selamat dari jerat dosa dan hukuman.

Post a Comment for "Muthola'ah Kelas 4 KMI dan Terjemahnya #4: Maukah Engkau Berjanji Kepadaku untuk Meninggalkan Dusta?"