Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Muthola'ah Kelas 4 KMI Beserta Terjemahannya #5: Taklid Buta

Taklid Buta Muthola’ah adalah sebuah metode pembelajaran yang unik di pesantren. Dalam pelajaran ini, kita diajak untuk membaca, …

Muthola'ah Kelas 4 KMI Beserta Terjemahannya #5: Taklid Buta
Taklid Buta

Muthola’ah adalah sebuah metode pembelajaran yang unik di pesantren. Dalam pelajaran ini, kita diajak untuk membaca, memahami, dan mengkaji kitab-kitab klasik berbahasa Arab. Kitab-kitab ini berisi pengetahuan mendalam tentang ajaran Islam. Melalui Mutholaah, kita belajar menerjemahkan dan menafsirkan teks-teks berbahasa Arab dengan benar.

Muthola’ah memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan pesantren. Pelajaran ini membantu kita memahami sumber-sumber utama ajaran Islam seperti Al-Quran dan Hadits. Dengan mempelajari Mutholaah, kita bisa menggali makna yang lebih dalam dari ajaran agama. Hal ini membuat pemahaman kita tentang Islam menjadi lebih kuat dan menyeluruh.

Dan berikut ini adalah teks Muthola'ah Kelas 4 KMI yang berharakat lengkap beserta terjemahan bagian 5 yang menceritakan tentang dua ekor keledai yang menyeberangi sungai yang masing-masing keledai tersebut membawa beban yang berbeda. Lalu apa yang terjadi? Simak kisahnya dibawah ini.

التَّقْلِيدُ الْأَعْمَى

كَانَ لِتَاجِرٍ حِمَارَانِ حَمَّلَ أَحَدَهُمَا مِلْحًا وَالْآخَرَ إِسْفَنْجًا وَبَيْنَمَا هُوَ سَائِرٌ بِهِمَا إِذْ مَرَّ بِتُرْعَةٍ فَنَزَلَ فِيهَا الْحِمَارُ حَامِلُ الْمِلْحِ لِيُطْفِئَ حَرَارَةَ الْعَطَشِ الَّذِي اسْتَوْلَى عَلَيْهِ مِنْ شِدَّةِ ثِقْلِ حِمْلِهِ وَخَرَجَ وَقَدْ خَفَّ حِمْلُهُ كَثِيرًا لِذَوَبَانِ الْمِلْحِ فِي الْمَاءِ

وَلَمَّا أَحَسَّ الْحِمَارُ بِخِفَّةِ حِمْلِهِ صَارَ يَعْدُو وَيَتِيهُ بَعْدَ أَنْ كَانَ مِنْ قَبْلُ كَئِيبًا حَزِينًا فَقَالَ زَمِيلُهُ "مَا الَّذِي أَصَابَكَ حَتَّى انْقَلَبَتْ حَالُكَ مِنَ الْهَمِّ إِلَى السُّرُورِ"

فَقَالَ "عِنْدَمَا نَزَلْتُ أَشْرَبُ لَمْ أَشْعُرْ إِلَّا وَالْمِلْحُ نَازِلٌ يَسِيلُ مِنْ فَوْقِ ظَهْرِي فَصِرْتُ حَتَّى ذَابَ كُلُّهُ وَخَرَجْتُ" فَتَعَجَّبَ الْحِمَارُ الثَّانِي مِنْ حُسْنِ حَظِّ أَخِيهِ وَصَمَّمَ عَلَى تَقْلِيدِهِ فِيمَا فَعَلَ عِنْدَ أَوَّلِ تُرْعَةٍ يَمُرُّ عَلَيْهَا وَبَعْدَ بُرْهَةٍ قَصِيرَةٍ بَلَغَ الثَّلَاثَةُ نَهْرًا كَبِيرًا فَنَزَلَ الْحِمَارُ الثَّانِي حَامِلُ الْإِسْفَنْجِ لِيَشْرَبَ وَيُذِيبَ حِمْلَهُ الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَهُ فَامْتَلَأَ الْإِسْفَنْجُ بِالْمَاءِ وَصَارَ أَثْقَلَ مِمَّا كَانَ فَخَرَجَ الْحِمَارُ يَئِنُّ وَيَتَوَجَّعُ مِنْ هَذِهِ الدَّاهِيَةِ فَلَمَّا رَآهُ التَّاجِرُ عَلَى هَذِهِ الْحَالِ مِنَ الْكَآبَةِ قَالَ لَهُ "أَيُّهَا الْغَبِيُّ الْأَحْمَقُ اعْلَمْ أَنَّ مَا يَصْلُحُ لِشَخْصٍ لَا يَجِبُ أَنْ يَصْلُحَ لِغَيْرِهِ وَأَنَّ التَّقْلِيدَ بِغَيْرِ هُدًى ضَلَالٌ وَسَفَاهَةٌ وَكَمْ مِثْلُكَ مِنْ بَنِي آدَمَ يُقَلِّدُونَ فِيمَا يَضُرُّهُمْ وَهُمْ لَا يَفْهَمُونَ"


المُفْرَدَاتُ

التَّقْلِيدُ الْأَعْمَى : Ikut-ikutan buta / taklid buta
حَمَّلَ : Memuati / membebankan
إِسْفَنْجًا : Spons / bunga karang
بِتُرْعَةٍ : Kanal air / parit / selokan besar
لِيُطْفِئَ : Untuk memadamkan / meredakan
اسْتَوْلَى عَلَيْهِ : Yang menguasai dirinya / melanda dirinya
لِذَوَبَانِ : Karena larutnya / hancurnya
يَعْدُو : Berlari kencang
ويَتِيهُ : Dan berbangga diri / bersuka ria
كَئِيبًا : Merasa jemu / muram / duka
انْقَلَبَتْ : Berubah / berbalik
الْهَمِّ : Kesedihan / kegundahan
يَسِيلُ : Mengalir / meleleh
وَصَمَّمَ : Dan dia bertekad bulat / bersikeras
بُرْهَةٍ : Sesaat / waktu yang singkat
أَنْقَضَ : Memberatkan / membebani hingga hampir mematahkan
يَئِنُّ : Merintih kesakitan
وَيَتَوَجَّعُ : Dan mengaduh / merasakan kepedihan
الدَّاهِيَةِ : Petaka / musibah besar
الْكَآبَةِ : Kemurungan / kedukaan yang mendalam
الْأَحْمَقُ : Yang pandir / bodoh
وَسَفَاهَةٌ : Dan tindakan bodoh / kekonyolan

Taklid Buta

Seorang pedagang memiliki dua ekor keledai. Ia memuati keledai yang satu dengan garam dan yang lainnya dengan spons. Ketika ia sedang berjalan menuntun kedua hewan tersebut, mereka melewati sebuah kanal air. Keledai yang membawa muatan garam pun turun ke dalam kanal untuk meredakan rasa haus yang menyiksa dirinya akibat beratnya beban yang ia bawa. Saat keluar dari air, bebannya telah berkurang banyak karena garamnya telah larut di dalam air.

Ketika merasa bebannya menjadi ringan, keledai itu mulai berlari kencang dan bersuka ria, padahal sebelumnya ia tampak muram dan berduka. Temannya pun bertanya, "Apa yang terjadi padamu hingga keadaanmu berubah drastis dari penuh kesedihan menjadi penuh kegembiraan?"

Keledai itu menjawab, "Saat aku turun untuk minum, tiba-tiba aku merasakan garam mengalir dan meleleh dari atas punggungku. Aku terus berendam sampai semuanya larut, lalu aku keluar." Keledai kedua pun takjub melihat keberuntungan temannya, lalu ia bertekad bulat untuk meniru apa yang telah dilakukan temannya itu pada kanal air pertama yang akan mereka lewati nanti.

Sesaat kemudian, mereka bertiga sampai di sebuah sungai yang besar. Keledai kedua yang membawa spons langsung turun ke sungai untuk minum sekaligus melarutkan muatannya yang telah memberatkan punggungnya. Namun yang terjadi, spons tersebut justru menyerap air hingga penuh dan bebannya menjadi jauh lebih berat daripada sebelumnya. Keledai itu pun keluar dari sungai sambil merintih dan mengaduh kesakitan akibat petaka tersebut.

Melihat keledai itu berada dalam kondisi yang sangat mengenaskan dan merana, sang pedagang berkata kepadanya, "Wahai keledai yang bodoh dan pandir! Ketahuilah bahwa apa yang baik bagi seseorang belum tentu baik bagi orang lain. Sesungguhnya ikut-ikutan tanpa petunjuk (akal sehat) adalah kesesatan dan kekonyolan. Betapa banyak manusia yang sepertimu, mereka suka ikut-ikutan dalam hal yang justru membahayakan diri mereka sendiri, sedangkan mereka tidak memahaminya."

---------------------------------------

Pesan Moral

Kisah dua keledai di atas memberikan gambaran yang sangat konkret mengenai "Taklid Buta" (ikut-ikutan tanpa landasan ilmu dan akal sehat). Berikut adalah analisis pesan moral secara terperinci mengenai bahaya perilaku ini dalam kehidupan sehari-hari:
  • Pesan dari Cerita: Apa yang membuat beban keledai pertama menjadi ringan (air melarutkan garam) justru membuat beban keledai kedua menjadi berkali-kali lipat lebih berat (spons menyerap air).
  • Konteks Sehari-hari: Setiap orang memiliki latar belakang, kondisi fisik, finansial, dan kebutuhan yang berbeda. Sesuatu yang berhasil atau baik bagi orang lain belum tentu cocok untuk kita. Meniru mentah-mentah keputusan orang lain tanpa mengukur kemampuan dan situasi diri sendiri sering kali justru mendatangkan masalah baru.



Bahasa ArabMuthola'ah

Post a Comment for "Muthola'ah Kelas 4 KMI Beserta Terjemahannya #5: Taklid Buta"

Artikel Terkini

Kembali ke atas