Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Muthola'ah Kelas 4 KMI dan Terjemahnya #6: Peramal itu Berbohong Walaupun Ucapan Mereka Benar

Peramal Pembohong Muthola’ah adalah sebuah metode pembelajaran yang unik di pesantren. Dalam pelajaran ini, kita diajak untuk mem…

Muthola'ah Kelas 4 KMI dan Terjemahnya #6: Peramal itu Berbohong Walaupun Ucapan Mereka Benar
Peramal Pembohong

Muthola’ah adalah sebuah metode pembelajaran yang unik di pesantren. Dalam pelajaran ini, kita diajak untuk membaca, memahami, dan mengkaji kitab-kitab klasik berbahasa Arab. Kitab-kitab ini berisi pengetahuan mendalam tentang ajaran Islam. Melalui Mutholaah, kita belajar menerjemahkan dan menafsirkan teks-teks berbahasa Arab dengan benar.

Muthola’ah memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan pesantren. Pelajaran ini membantu kita memahami sumber-sumber utama ajaran Islam seperti Al-Quran dan Hadits. Dengan mempelajari Mutholaah, kita bisa menggali makna yang lebih dalam dari ajaran agama. Hal ini membuat pemahaman kita tentang Islam menjadi lebih kuat dan menyeluruh.

Dan berikut ini adalah teks Muthola'ah Kelas 4 KMI yang berharakat lengkap beserta terjemahan bagian 6 yang menceritakan tentang seorang peramal yang salah dalam meramal yang akhirnya membuat dia malu. Seperti apa kisahnya? Simak ceritanya dibawah ini.


كَذَبَ الْمُنَجِّمُونَ وَلَوْ صَدَقُوا

مِنَ النَّاسِ مَنْ يَحْتَرِفُ حِرَفًا لَا تَعْتَبِرُ مُزَاوَلَتُهَا إِلَّا احْتِيَالًا عَلَى الْمَعِيشَةِ بِطُرُقٍ لَيْسَتْ مِنَ الشَّرَفِ فِي شَيْءٍ وَلَا يَرْضَى بِمِثْلِ هَذِهِ الْمَعِيشَةِ إِلَّا أَوْغَادُ النَّاسِ وَمِنْ هَؤُلَاءِ الْمُنَجِّمُونَ الَّذِينَ يَدَّعُونَ مَعْرِفَةَ الْغَيْبِ بِالتَّنْجِيمِ.

وَرُؤِيَ بَعْضُهُمْ أَنَّ مُنَجِّمًا مِمَّنْ يَتَجَوَّلُونَ فِي الْبُلْدَانِ نَزَلَ بِقَرْيَةٍ أَهْلُهَا مِنَ الْعَرَبِ وَأَخَذَ يَطُوفُ طُرُقَهَا حَتَّى أَتَى إِلَى دَارٍ مِنْ أَحْسَنِ الدُّورِ مَنْظَرًا فَوَقَفَ بِالْبَابِ وَطَلَبَ مِنْ أَصْحَابِ الْبَيْتِ إِيوَاءَهُ وَإِطْعَامَهُ وَلَمَّا كَانَتِ الضِّيَافَةُ عِنْدَ الْعَرَبِ مِنَ الْمَزَايَا الَّتِي تَرْفَعُ فَاعِلَهَا عِنْدَ اللهِ أَنْزَلُوهُ عَلَى الرُّحْبِ وَالسَّعَةِ وَأَكْرَمُوا مَثْوَاهُ وَفِي أَثْنَاءِ إِقَامَتِهِ بَيْنَهُمْ رَأَى طِفْلًا صَغِيرًا فِي مَهْدِهِ فَجَلَسَ الْمُنَجِّمُ وَطَلَبَ دَوَاةً وَقِرْطَاسًا وَأَخَذَ يَكْتُبُ طَوِيلًا وَرَبُّ الْبَيْتِ يَتَوَقَّعُ فَرَاغَهُ مِنْ حِينٍ إِلَى حِينٍ كَيْ يُحَيِّيَهُ التَّحِيَّةَ الَّتِي اعْتَادَهَا الْعَرَبُ مَعَ نُزَلَائِهِمْ.

وَبَعْدَ فَرَاغِهِ نَظَرَ إِلَى رَبِّ الْبَيْتِ وَقَالَ "عَلِمْتُ بِالتَّنْجِيمِ أَنَّ ابْنَكَ هَذَا سَيَكُونُ مِنْ أَسْعَدِ الرِّجَالِ وَأَكْبَرِهِمْ قَدْرًا وَلِشَجَاعَتِهِ يَتَوَلَّى رِيَاسَةَ الْجَيْشِ وَتَنْتَصِرُ بِالْبِلَادِ عَلَى يَدَيْهِ فِي غَزَوَاتٍ هَامَّةٍ كَثِيرَةٍ وَأَنَّهُ سَيَنَالُ أَعْظَمَ أَلْقَابِ الشَّرَفِ حَتَّى يَكُونَ عَلَمًا يُشَارُ إِلَيْهِ بِالْبَنَانِ وَيَهَابُهُ كُلُّ النَّاسِ فِي جَمِيعِ الْأَقْطَارِ...."

فَقَطَعَ عَلَيْهِ الْأَبُ الْكَلَامَ وَقَالَ "إِنَّمَا الطِّفْلُ الَّذِي تَتَكَلَّمُ عَنْهُ بِنْتٌ" فَأَمْسَكَ الْمُنَجِّمُ وَشَعَرَ بِالْخِزْيِ وَرَحَلَ.


المُفْرَدَاتُ

يَحْتَرِفُ : Menjadikan sebagai profesi / mata pencaharian
احْتِيَالًا : Penipuan / tipu muslihat
أَوْغَادُ : Orang-orang berkedudukan rendah / hina
الْمُنَجِّمُونَ : Para peramal / ahli nujum
يَدَّعُونَ : Mengklaim / mengaku-ngaku
يَتَجَوَّلُونَ : Berkeliling / mengembara
إِيوَاءَهُ : Memberikan tempat bernaung / menampung menginap
الْمَزَايَا : Keistimewaan / sifat-sifat mulia
أَنْزَلُوهُ عَلَى الرُّحْبِ وَالسَّعَةِ : Menyambutnya dengan tangan terbuka
مَهْدِهِ : Tempat tidur bayi / ayunan bayi
دَوَاةً : Wadah tinta untuk menulis
قِرْطَاسًا : Kertas / lembaran untuk menulis
نُزَلَائِهِمْ : Tamu-tamu mereka
عَلَمًا يُشَارُ إِلَيْهِ بِالْبَنَانِ : Tokoh terkenal yang ditunjuk dengan ujung jari (sangat masyhur)
بِالْخِزْيِ : Rasa malu yang mendalam / kehinaan


Peramal itu Berbohong Walaupun Ucapan Mereka Benar

Di antara manusia, ada orang-orang yang menekuni profesi yang praktiknya tidak lain hanyalah bentuk penipuan demi mencari nafkah dengan cara-cara yang sama sekali tidak terhormat. Tidak ada yang rela menjalani kehidupan semacam ini kecuali orang-orang yang berkedudukan rendah. Salah satu dari mereka adalah para peramal, yaitu orang-orang yang mengklaim mengetahui hal-hal gaib melalui ramalan bintang.

Dikisahkan bahwa salah seorang peramal yang sering mengembara dari satu negeri ke negeri lain singgah di sebuah desa yang penduduknya adalah bangsa Arab. Ia mulai berkeliling menyusuri jalan-jalan desa hingga sampai di sebuah rumah yang bangunannya paling indah. Ia lalu berdiri di depan pintu dan meminta kepada pemilik rumah agar bersedia memberinya tempat bernaung dan makanan. Karena menjamu tamu di kalangan bangsa Arab merupakan salah satu sifat mulia yang dapat mengangkat derajat pelakunya di sisi Allah, mereka pun menyambutnya dengan tangan terbuka dan memuliakan tempat menginapnya.

Di tengah masa tinggalnya bersama mereka, sang peramal melihat seorang bayi kecil di dalam ayunannya. Ia pun duduk lalu meminta wadah tinta serta kertas, kemudian mulai menulis dalam waktu yang cukup lama. Sementara itu, sang pemilik rumah terus menunggu peramal itu selesai menulis dari waktu ke waktu, agar ia dapat menyampaikan salam penghormatan sebagaimana yang biasa dilakukan bangsa Arab kepada para tamu mereka.

Setelah selesai menulis, peramal itu menatap sang pemilik rumah lalu berkata, "Berdasarkan ramalan bintang, aku mengetahui bahwa anakmu ini kelak akan menjadi salah satu pria yang paling berbahagia dan memiliki kedudukan yang paling tinggi. Karena keberaniannya, ia akan memegang tampuk pimpinan militer. Di tangannyalah negeri ini akan meraih kemenangan dalam berbagai peperangan besar yang penting. Ia juga akan memperoleh gelar kehormatan tertinggi hingga menjadi tokoh terkemuka yang ditunjuk dengan ujung jari (sangat masyhur), serta disegani oleh semua orang di seluruh penjuru negeri...."

Seketika itu juga, sang ayah langsung memotong ucapannya dan berkata, "Sesungguhnya bayi yang sedang kamu bicarakan itu adalah seorang anak perempuan." Mendengar hal tersebut, sang peramal langsung terdiam, merasakan rasa malu yang mendalam, lalu pergi berlalu.

---------------------------------------

Pesan Moral

  • Sindiran Logis yang Telak: Akhir cerita ini mematahkan klaim peramal secara mutlak lewat logika yang sangat sederhana. Peramal tersebut mengaku tahu masa depan yang jauh, rumit, dan gaib (karir militer, perang, gelar kehormatan), tetapi kenyataannya hal nyata di depan matanya sendiri (jenis kelamin bayi di dalam ruangan) pun ia tidak tahu.
  • Pesan Moral Utama: Teks ini menegaskan bahwa ramalan nasib hanyalah bualan dan penipuan demi mencari uang. Kisah ini mengajak kita untuk berpikir kritis dan tidak mudah percaya pada takhayul, karena tidak ada manusia yang benar-benar mengetahui hal gaib atau masa depan selain Tuhan.

Bahasa ArabMuthola'ah

Post a Comment for "Muthola'ah Kelas 4 KMI dan Terjemahnya #6: Peramal itu Berbohong Walaupun Ucapan Mereka Benar"

Artikel Terkini

Kembali ke atas