Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Muthola'ah Kelas 4 KMI Beserta Terjemahannya #12: Raja Kisra dan Petani Tua

Raja Kisra dan Petani Tua Muthola’ah adalah sebuah metode pembelajaran yang unik di pesantren. Dalam pelajaran ini, kita diajak u…

Muthola'ah Kelas 4 KMI Beserta Terjemahannya #12: Raja Kisra dan Petani Tua
Raja Kisra dan Petani Tua

Muthola’ah adalah sebuah metode pembelajaran yang unik di pesantren. Dalam pelajaran ini, kita diajak untuk membaca, memahami, dan mengkaji kitab-kitab klasik berbahasa Arab. Kitab-kitab ini berisi pengetahuan mendalam tentang ajaran Islam. Melalui Mutholaah, kita belajar menerjemahkan dan menafsirkan teks-teks berbahasa Arab dengan benar.

Muthola’ah memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan pesantren. Pelajaran ini membantu kita memahami sumber-sumber utama ajaran Islam seperti Al-Quran dan Hadits. Dengan mempelajari Mutholaah, kita bisa menggali makna yang lebih dalam dari ajaran agama. Hal ini membuat pemahaman kita tentang Islam menjadi lebih kuat dan menyeluruh.

Dan berikut ini adalah teks Muthola'ah Kelas 4 KMI yang berharakat lengkap beserta terjemahan bagian 12 yang menceritakan tentang raja Kisra dan seorang petani tua.

كِسْرَى وَالْفَلَّاحُ الشَّيْخُ

يُحْكَى أَنَّ كِسْرَى أَنُوشِرْوَانَ مَلِكَ فَارِسَ مَرَّ عَلَى شَيْخٍ وَهُوَ يَغْرِسُ شَجَرَ الزَّيْتُونِ فَوَقَفَ الْمَلِكُ بُرْهَةً مُفَكِّرًا فِيمَا عَسَاهُ أَنْ يَدُورَ ذَلِكَ الرَّجُلُ الْهَرِمُ وَلَيْسَ مِنَ الْمُحْتَمَلِ أَنْ يَعِيشَ حَتَّى يَأْكُلَ مِنْ ثَمَرِ مَا يَغْرِسُ فَقَالَ "أَيُّهَا الشَّيْخُ لَيْسَ هَذَا أَوَانَ غَرْسِكَ الزَّيْتُونَ لِأَنَّهُ شَجَرٌ بَطِيءُ النَّمَاءِ وَالْإِثْمَارِ وَأَنْتَ شَيْخٌ هَرِمٌ" فَقَالَ الشَّيْخُ "أَيُّهَا الْمَلِكُ قَدْ غَرَسَ مَنْ قَبْلَنَا فَأَكَلْنَا وَنَغْرِسُ نَحْنُ لِيَأْكُلَ مَنْ بَعْدَنَا"

فَقَالَ كِسْرَى "زَهْ" وَكَانَ فِي عُرْفِهِمْ إِذَا قَالَهَا الْمَلِكُ لِإِنْسَانٍ أُجِيزَ ذَلِكَ الْإِنْسَانُ بِقَدْرٍ مُعَيَّنٍ مِنَ النَّضِّ فَدُفِعَ ذَلِكَ الْقَدْرُ إِلَى الشَّيْخِ عَلَى الْفَوْرِ فَقَالَ "أَيُّهَا الْمَلِكُ كَيْفَ رَأَيْتَ غَرْسِي فَمَا أَسْرَعَ مَا أَثْمَرَ" فَقَالَ الْمَلِكُ "زَهْ" مَرَّةً ثَانِيَةً فَأُعْطِيَ الشَّيْخُ جَائِزَةً أُخْرَى فَقَالَ "أَيُّهَا الْمَلِكُ كُلُّ شَجَرَةٍ تُثْمِرُ فِي الْعَامِ مَرَّةً وَشَجَرِي أَثْمَرَ فِي لَحْظَةٍ مَرَّتَيْنِ" فَقَالَ الْمَلِكُ مَرَّةً ثَالِثَةً "زَهْ" فَأُجِيزَ الشَّيْخُ ثَالِثَةً ثُمَّ مَضَى كِسْرَى وَقَالَ لِأَصْحَابِهِ "انْصَرِفُوا فَلَوْنَا وَقَفْنَا لَمْ يَكْفِ الشَّيْخَ مَا فِي خَزَائِنِنَا"

وَقَدْ كَانَ الشَّيْخُ فِي عَمَلِهِ مِثَالًا لِمَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ عَلَيْهِ كُلُّ إِنْسَانٍ فِي عَمَلِهِ حَتَّى يَعْمَلَ الْكُلُّ لِفَائِدَةِ الْكُلِّ وَبِدُونِ ذَلِكَ لَا يَنْتَظِمُ لِلْمَجْمُوعِ الْإِنْسَانِيِّ أَمْرٌ وَلَا يَخْطُو الْكَوْنُ خُطْوَةً فِي سَبِيلِ الرُّقِيِّ


المُفْرَدَاتُ

يُحْكَى : Diceritakan / dikisahkan
يَغْرِسُ : Menanamبُرْهَةً : Sebentar / sejenak
الْهَرِمُ : Yang sangat tua / renta
الْمُحْتَمَلِ : Kemungkinan / mungkin terjadi
أَوَانَ : Waktu / saat
بَطِيءُ النَّمَاءِ : Lambat pertumbuhannya
وَالْإِثْمَارِ : Dan berbuah / pembuahan
عُرْفِهِمْ : Adat kebiasaan mereka / tradisi mereka
أُجِيزَ : Diberi hadiah / diberi upah
النَّضِّ : Uang tunai (khususnya uang emas atau perak)
عَلَى الْفَوْرِ : Segera / seketika itu juga
لَحْظَةٍ : Momen / sekejap mata
انْصَرِفُوا : Bubarlah / mari kita pergi
خَزَائِنِنَا : Perbendaharaan kita / brankas kerajaan kita
يَنْبَغِي : Seharusnya / semestinya
يَنْتَظِمُ : Teratur / berjalan dengan tertib
الرُّقِيِّ : Kemajuan / peradaban yang tinggi


Raja Kisra dan Petani Tua

Dikisahkan bahwa Kisra Anusyirwan, Raja Persia, berjalan melewati seorang lelaki tua yang sedang menanam pohon zaitun. Raja pun berhenti sejenak sambil merenungkan apa yang mungkin sedang dipikirkan oleh orang tua renta itu. Sebab, kecil kemungkinan ia akan hidup cukup lama sampai bisa memakan buah dari pohon yang ia tanam tersebut. Raja lalu berkata, "Wahai orang tua, ini bukanlah saat yang tepat bagimu untuk menanam zaitun, karena pohon ini lambat pertumbuhan dan pembuahannya, sedangkan kamu sendiri sudah sangat tua renta." Petani tua itu menjawab, "Wahai Baginda Raja, orang-orang sebelum kita telah menanam, lalu kita memakan hasilnya. Sekarang, kita menanam agar orang-orang setelah kita dapat menikmati hasilnya."

Mendengar jawaban itu, Raja Kisra berseru, "Zah!" Dalam tradisi mereka, jika raja mengucapkan kata tersebut kepada seseorang, maka orang itu berhak mendapatkan hadiah berupa sejumlah uang tunai. Maka, sejumlah uang itu pun segera diberikan kepada si petani tua. Petani tua itu lalu berkata, "Wahai Baginda Raja, bagaimana pendapatmu tentang tanamanku ini? Betapa cepatnya ia sudah menghasilkan buah." Raja kembali berseru, "Zah!" untuk kedua kalinya, sehingga orang tua itu diberi hadiah tambahan lagi. Petani tua itu berkata lagi, "Wahai Baginda Raja, setiap pohon biasanya hanya berbuah sekali dalam setahun, sedangkan pohonku ini sudah berbuah dua kali dalam sekejap mata." Raja pun berseru "Zah!" untuk ketiga kalinya dan si petani kembali diberi hadiah. Setelah itu, Raja Kisra segera pergi dan berkata kepada para pengawalnya, "Mari kita pergi dari sini! Jika kita terus bertahan di sini, isi seluruh perbendaharaan kerajaan kita tidak akan cukup untuk memenuhi hadiah orang tua ini."

Melalui apa yang dilakukannya, petani tua ini telah menjadi teladan tentang bagaimana seharusnya setiap manusia bersikap dalam bekerja. Hal ini bertujuan agar semua orang bekerja demi memberikan manfaat bagi sesama. Tanpa adanya prinsip tersebut, tatanan umat manusia tidak akan pernah berjalan dengan teratur, dan dunia ini tidak akan mampu melangkah maju menuju jalan kemajuan.

---------------------------

Pesan Moral

Pesan moral utama dari cerita ini adalah tentang pentingnya memiliki ketulusan dalam bekerja demi kemaslahatan generasi masa depan serta nilai sebuah kebijaksanaan yang berbalas kemuliaan. Melalui kisah petani tua, kita diajarkan untuk tidak bersikap egois dalam berkarya dan menanam kebaikan, karena apa yang kita nikmati hari ini adalah hasil jerih payah orang terdahulu, dan apa yang kita usahakan saat ini adalah warisan berharga untuk orang setelah kita. Selain itu, kecerdikan yang dibalut dengan tutur kata yang santun terbukti mampu mendatangkan penghargaan tinggi, bahkan dari seorang penguasa besar sekalipun.



Bahasa ArabMuthola'ah

Post a Comment for "Muthola'ah Kelas 4 KMI Beserta Terjemahannya #12: Raja Kisra dan Petani Tua"

Artikel Terkini

Kembali ke atas