Muthola'ah Kelas 4 KMI Beserta Terjemahannya #8: Puisi; Rintihan Anak Buta
Rintihan anak buta Muthola’ah adalah sebuah metode pembelajaran yang unik di pesantren. Dalam pelajaran ini, kita diajak untuk me…
![]() |
| Rintihan anak buta |
Muthola’ah adalah sebuah metode pembelajaran yang unik di pesantren. Dalam pelajaran ini, kita diajak untuk membaca, memahami, dan mengkaji kitab-kitab klasik berbahasa Arab. Kitab-kitab ini berisi pengetahuan mendalam tentang ajaran Islam. Melalui Mutholaah, kita belajar menerjemahkan dan menafsirkan teks-teks berbahasa Arab dengan benar.
Muthola’ah memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan pesantren. Pelajaran ini membantu kita memahami sumber-sumber utama ajaran Islam seperti Al-Quran dan Hadits. Dengan mempelajari Mutholaah, kita bisa menggali makna yang lebih dalam dari ajaran agama. Hal ini membuat pemahaman kita tentang Islam menjadi lebih kuat dan menyeluruh.
Dan berikut ini adalah teks muthola'ah kelas 4 KMI yang berharakat lengkap beserta terjemahan bagian 8 yang memuat tentang sebuah puisi rintihan anak yang buta.
أَنَّةُ طِفْلٍ ضَرِيرٍ
يَا أُمِّ مَا شَكْلُ السَّمَا * ءِ وَمَا الضِّيَاءُ وَمَا الْقَمَرْ
بِجَمَالِهَا تَتَحَدَّثُو * نَ وَلَا أَرَى مِنْهَا الْأَثَرْ
هَلْ هَذِهِ الدُّنْيَا ظَلَا * مٌ فِي ظَلَامٍ مُسْتَمِرّ
يَا أُمِّ مُدِّي لِي يَدَ * كِ عَسَى يُزَايِلُنِي الضَّجَرْ
أَمْشِي أَخَافُ تَعَثُّرًا * وَسْطَ النَّهَارِ أَوِ السَّحَرْ
لَا أَهْتَدِي فِي السَّيْرِ إِنْ * طَالَ الطَّرِيقُ وَإِنْ قَصُرْ
فَالنُّورُ عِنْدِي كَالظَّلَا * مِ وَالِاسْتِطَالَةُ كَالْقَصَرْ
أَمْشِي أُحَاذِرُ أَنْ يُصَا * دِفَنِي إِذَا أَخْطُو خَطَرْ
وَالْأَرْضُ عِنْدِي يَسْتَوِي * مِنْهَا الْبَسَائِطُ وَالْحُفَرْ
عُكَّازَتِي هِيَ نَاظِرِي * هَلْ فِي جَمَادٍ مِنْ بَصَرْ
يَجْرِي الصِّغَارُ وَيَلْعَبُو * نَ وَيَرْتَعُونَ وَلَا ضَرَرْ
يَتَمَتَّعُونَ بِمَا يَرَوْ * نَ مِنَ الْجَمَالِ الْمُفْتَخَرْ
وَأَنَا ضَرِيرٌ قَاعِدٌ * فِي عُقْرِ بَيْتِي مُسْتَقِرّ
وَيْلَاهُ هَلْ أَقْضِي الْحَيَا * ةَ بِغَيْرِ عَيْنٍ أَوْ نَظَرْ
مَاذَا جَنَيْتُ مِنَ الذُّنُو * بِ بِهَا يُعَاكِسُنِي الْقَدَرْ
يَا أُمِّ ضَاقَ بِيَ الْقَضَا * ءُ وَمِنَ الْعَمَى قَلْبِي انْكَسَرْ
يَا أُمِّ ضُمِّينِي إِلَيْ * كِ فَلَيْسَ غَيْرُكِ مَنْ يَبَرّ
يَا أُمِّ لَا تَبْكِي عَلَيْ * يَّ رَعَاكِ مَنْ خَلَقَ الْبَشَرْ
اللهُ يَلْطُفُ بِي وَيَصْ * رِفُ مَا أُقَاسِي مِنْ كَدَرْ
المُفْرَدَاتُ
أَنَّةُ : Rintihan / keluhan kesakitanضَرِيرٍ : Orang buta / tuna netra
يُزَايِلُنِي : Hilang dariku / lenyap dariku
الضَّجَرْ : Kejenuhan / rasa bosan / kegundahan
تَعَثُّرًا : Tersandung / jatuh terjerembab
السَّحَرْ : Waktu sahur / akhir malam menjelang subuh
الِاسْتِطَالَةُ : Sesuatu yang panjang / perpanjangan jalan
الْبَسَائِطُ : Dataran rendah / tanah yang rata
الْحُفَرْ : Lubang-lubang (bentuk jamak dari hufrah)
عُكَّازَتِي : Tongkatku
وَيَرْتَعُونَ : Dan mereka bersenang-senang / menikmati masa muda
عُقْرِ : Bagian tengah / bagian dalam rumah
أَقْضِي : Aku menghabiskan / aku melewati (waktu kehidupan)
يُعَاكِسُنِي : Menentangku / tidak berpihak kepadaku
أُقَاسِي : Aku menderita / aku menanggung kesulitan
Rintihan Anak Buta
Wahai Ibu, bagaimanakah bentuk langit itu?Apakah itu cahaya, dan apakah itu rembulan?
Engkau sekalian membicarakan keindahannya,
sementara aku sama sekali tidak melihat bekasnya.
Apakah dunia ini adalah kegelapan?
Berada di dalam kegelapan yang terus-menerus?
Wahai Ibu, ulurkanlah tanganmu kepadaku,
semoga rasa jenuh dan gundah ini lenyap dariku.
Aku berjalan dengan rasa takut akan tersandung,
baik di tengah siang hari maupun di waktu akhir malam.
Aku tidak mendapat petunjuk arah saat berjalan,
entah jalannya panjang ataupun pendek.
Sebab bagi diriku, cahaya itu sama saja seperti kegelapan,
dan jalan yang panjang terasa sama seperti jalan yang pendek.
Aku berjalan dengan penuh waspada,
khawatir mara bahaya akan menerjang saat aku melangkah.
Bagi diriku, bumi ini terasa sama saja,
baik tanahnya yang rata maupun yang berlubang.
Tongkatku inilah yang menjadi penglihatanku,
namun adakah penglihatan pada sebuah benda mati?
Anak-anak kecil berlari dan bermain,
mereka bersenang-senang tanpa ada bahaya yang mengancam.
Mereka menikmati apa yang mereka lihat,
berupa keindahan yang dibangga-banggakan.
Sementara aku adalah anak buta yang hanya terduduk,
menetap di dalam rumahku sendiri.
Aduhai malangnya, apakah aku harus menghabiskan hidup ini,
tanpa memiliki mata ataupun penglihatan?
Dosa apakah yang telah aku perbuat,
hingga takdir seolah menentang dan tidak berpihak kepadaku?
Wahai Ibu, ketetapan ini terasa menyesakkan bagiku,
dan karena kebutaan ini, hatiku hancur lebur.
Wahai Ibu, dekaplah aku ke dalam pelukanmu,
sebab tidak ada orang lain selain dirimu yang akan berbuat baik.
Wahai Ibu, janganlah engkau menangisi diriku,
semoga Engkau dijaga oleh Sang Pencipta umat manusia.
Allah akan bersikap lembut kepadaku,
dan Dia akan melenyapkan penderitaan serta kesedihan yang aku tanggung.
mereka bersenang-senang tanpa ada bahaya yang mengancam.
Mereka menikmati apa yang mereka lihat,
berupa keindahan yang dibangga-banggakan.
Sementara aku adalah anak buta yang hanya terduduk,
menetap di dalam rumahku sendiri.
Aduhai malangnya, apakah aku harus menghabiskan hidup ini,
tanpa memiliki mata ataupun penglihatan?
Dosa apakah yang telah aku perbuat,
hingga takdir seolah menentang dan tidak berpihak kepadaku?
Wahai Ibu, ketetapan ini terasa menyesakkan bagiku,
dan karena kebutaan ini, hatiku hancur lebur.
Wahai Ibu, dekaplah aku ke dalam pelukanmu,
sebab tidak ada orang lain selain dirimu yang akan berbuat baik.
Wahai Ibu, janganlah engkau menangisi diriku,
semoga Engkau dijaga oleh Sang Pencipta umat manusia.
Allah akan bersikap lembut kepadaku,
dan Dia akan melenyapkan penderitaan serta kesedihan yang aku tanggung.

Post a Comment for "Muthola'ah Kelas 4 KMI Beserta Terjemahannya #8: Puisi; Rintihan Anak Buta"