28 Jan 2013

Selamanya Kita Tidak Akan Merasa Puas

·   75

Selamanya Kita Tidak Akan Merasa Puas | Ini bukanlah sebuah kisah nyata, namun saya tertarik untuk memuat dalam postingan ini sebagai bahan renungan buat saya pribadi dan mungkin juga bisa bermanfaat buat sobat sekalian. Kalaupun sudah ada sobat yang pernah mendengar dan membacanya, semoga bisa mengingatkan kembali. Setelah kemarin saya posting Tentang Warna yang menceritakan tentang dunia anak-anak. Kali inipun masih bercerita tentang dunia anak-anak juga. Karena tanpa disadari kita sebagai orang yang dewasa, kadang berperilaku seperti mereka. Inilah kisahnya :

Ada seorang anak yang kehilangan uang sebesar Rp.10.000. Dia begitu sedih dan menangis sejadi-jadinya. Paman anak tersebut merasa kasihan, kemudian dia menghampiri anak itu.
“Kenapa kamu menangis?” tanya pamannya dengan penuh kasih sayang.
“Uang saya hilang Rp.10.000.” katanya sambil terisak-isak.
“Tenang saja, nich paman ganti yah… paman kasih Rp.10.000 buat kamu. Jangan menangis yah!” kata pamannya sambil menyerahkan selembar uang Rp.10.000. Namun, sia anak tetap saja menangis. Kenapa?
“Kenapa kamu masih menangis saja? Kan sudah diganti?” tanya pamannya.
“Kalau tidak hilang… uang saya sekarang Rp. 20.000.” kata anak itu dan terus menangis.
Pamannya bingung…“Terserah kamu saja dech….”, katanya sambil pergi.
Ayahnya yang baru pulang kantor mendapati anaknya masih menangis.
“Kenapa sayang? Kok, menangis. Lihat mata kamu, sudah bengkak begitu. Nangis dari tadi yah?” tanyanya sambil menyeka air mata anaknya.“Uang saya hilang Rp10.000.” kata anaknya mengadu.
“Ooohhh. Lho itu punya uang Rp.10.000? Katanya hilang?” tanya ayahnya yang heran karena dia melihat anaknya memegang uang Rp.10.000
“Ini dari paman…. uang saya hilang. Kalau tidak hilang saya punya Rp.20.000.” jawabnya sambil terus menangis.
“Sudahlah…. nih ayah ganti. Ayah ganti dengan uang yang lebih besar. Ayah kasih kamu Rp20.000. Jangan menangis lagi yah!” kata ayahnya sambil menyerahkan selembar uang Rp.20.000.
Si anak menerima uang itu. Tetapi masih tetap saja menangis. Ayahnya heran, kemudian bertanya lagi.
“Kenapa masih menangis saja? Kan sudah diganti?”
“Kalau tidak hilang, uang saya Rp.40.000.”
Ayahnya hanya geleng-geleng kepala. “Kalau gitu dikasih berapa pun, kamu akan nangis terus.” sambil mengendong anaknya.

Nah, sobat Muro’i El-Barezy, walaupun tidak nyata kisahnya, kita bisa mengambil pelajaran bahwa seperti itulah kadang kita. Tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah ada. Manusia selalu merasa kurang dan hanya melihat  apa –apa yang tidak ada pada diri kita saja. Padahal nikmat Allah begitu banyaknya sudah kita terima.

أَلْهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ ﴿١﴾ حَتَّىٰ زُرْتُمُ ٱلْمَقَابِرَ ﴿٢﴾

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur” (At Takaatsur 1-2)

Semoga kita dijadikan sebagai orang-orang yang selalu bersyukur atas segala nikmat-Nya. Amiin.

Semoga bermanfaat dan happy blogging….



Subscribe to this Blog via Email :