Kang Muro'i

Teacher and Web Developer

  • Home
  • Info Beasiswa
    • Dalam Negeri
    • Luar Negeri
  • Archives
  • About
  • Home
  • Download
    • Pedoman
    • Petunjuk Teknis
    • Surat Edaran
  • Hadis Arbain
  • Info Kompetisi
  • Blogger
    • Kolom Tutorial
    • Blogger Templates
    • Javascript
    • Tips SEO
  • Cerita Hikmah
  • Motivasi
    • Tausiah
    • Cerita Motivasi
  • Tips

Hadis Arbain #5: Hadits Tentang Perkara Bid’ah bagi Umat Islam

 Kang Muroi     January 20, 2026     Hadis Arbain     No comments   

Hadis Arbain #5: Hadits Tentang Perkara Bid’ah bagi Umat Islam
Hadis Arbain #5

Hadits Arbain Ke 5 – Hadits Tentang Bid’ah merupakan hadits dalam kitab Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala.

Baca Selengkapnya

Hadis Arbain #4: Proses Penciptaan Manusia dan Mengimani Takdir Allah dengan Benar

 Kang Muroi     January 20, 2026     Hadis Arbain     No comments   

Hadis Arbain #4: Proses Penciptaan Manusia dan Mengimani Takdir Allah dengan Benar
Hadis Arbain #4

Kali ini admin akan membagikan hadits tentang proses penciptaan manusia dan bagaimana cara memahami takdir dengan benar. Dan hal ini bisa kita pahami dari hadits Arbain yang ke-4 berikut ini.

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan, “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani (nuthfah) selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah (‘alaqah) selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging (mudhgah) selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan diperintahkan untuk ditetapkan empat perkara, yaitu rezekinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain-Nya. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta. Akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta. Akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga.” (HR. Bukhari, no. 6594 dan Muslim, no. 2643)

Kandungan isi hadits

Penjelasan dalam hadits lain, dari sahabat Sahl bin Sa’ad as-Saa’idi Radhiyallahu ‘Anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berperang melawan kaum musyrikin. Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kembali ke pasukan perangnya dan kaum musyrikin pun telah kembali ke pasukan perang mereka (untuk menantikan perang selanjutnya), dan di antara sahabat-sahabat Nabi (yang ikut berperang) ada seseorang yang tidak seorang musyrik pun yang menyendiri (terpisah) dari pasukan kaum musyrikin kecuali ia mengikutinya dan menikamnya dengan pedangnya, maka ada yang berkata, ‘Tidak ada di antara kita yang memuaskan kita pada perang hari ini sebagaimana yang dilakukan oleh si fulan’. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun berkata, ‘Adapun si fulan adalah termasuk penduduk neraka’.

Salah seorang berkata, ‘Saya akan menemani (membuntuti) si fulan tersebut’. Maka ia pun mengikuti si fulan tersebut. Kemudian setelah berperang, si fulan ini terluka parah, maka ia pun segera membunuh dirinya (karena tidak tahan terhadap rasa sakit dari lukanya). Ia meletakkan pedangnya di tanah kemudian mata pedangnya ia letakkan di dadanya, lalu ia pun menindihkan dadanya ke pedang tersebut. Kemudian ia pun meninggal. Orang yang membuntutinya segera menuju ke Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berkata, ‘Aku bersaksi bahwasanya engkau adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala’. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata, ‘Ada apa?’. Ia menjawab, ‘Orang yang tadi engkau sebutkan bahwasanya ia masuk neraka! Lantas orang-orang pun merasa heran, lalu aku berkata biarlah aku yang akan mengeceknya. Maka aku pun keluar mengikutinya, lalu ia terluka sangat parah dan kemudian ia meletakkan pedangnya di tanah dan meletakkan mata pedangnya di dadanya, lalu ia menindihkan dadanya ke mata pedang tersebut, dan ia pun membunuh dirinya’.

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata, “Sesungguhnya seseorang sungguh-sungguh melakukan amalan penghuni surga menurut apa yang nampak bagi manusia, padahal ia termasuk penghuni neraka. Dan seseorang melakukan amalan penghuni neraka menurut apa yang nampak bagi manusia padahal ia termasuk penduduk surga.” (HR. Bukhari No. 2898 dan Muslim No. 179)

Faedah Hadits

  1. Pembentukan manusia dalam rahim mulai dari nuthfah (setetes mani), ‘alaqah (segumpal darah), mudhgah (segumpal daging) masing-masing selama 40 hari.
  2. Allah benar-benar perhatian pada manusia karena ada malaikat yang bertugas mengurus manusia ketika berada dalam janin. Ketika berada di dunia, ada malaikat yang bertugas mengawasi dan mendoakannya. Ketika akan mati, ada malaikat yang bertugas mencabut nyawanya.
  3. Malaikat adalah hamba Allah yang diperintah dan dilarang.
  4. Jumhur (kebanyakan ulama) menyatakan bahwa wajib berpegang dengan ketetapan yang disebutkan dalam hadits. Namun bisa terjadi perbedaan jumlah hari dalam pembentukan tadi dikarenakan ada yang terjadi di awal atau akhir hari, di awal atau di akhir malam.
  5. Manusia mengalami tiga tahapan yaitu nuthfah, ‘alaqah lalu mudghah selama 120 hari (4 bulan). Lalu ruh ditiupkan setelah 120 hari.
  6. Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa janin boleh digugurkan jika belum mencapai 120 hari karena ruh belum ditiupkan. Sedangkan ulama Syafi’iyah dan Hambali menyatakan bahwa boleh menggugurkan di bawah 40 hari dengan menggunakan obat yang mubah. Adapun jika melewati 40 hari masa kehamilan tidaklah dibolehkan dikarenakan sudah terbentuk segumpal darah. Dalam hadits dari Abu Hudzaifah disebutkan, “Jika sudah terbentuk nuthfah setelah 42 hari, maka Allah akan mengutus malaikat untuk membentuk nuthfah tersebut sehingga terbentuk pendengaran, penglihatan, kulit, daging dan tulang.” (HR. Muslim, no. 2645). Ulama Malikiyah sendiri berpandangan bahwa kandungan tidak boleh digugurkan setelah terbentuk nuthfah (bercampurnya sel sperma dan sel telur) walau lewat satu hari. Karena ketika itu telah dimulainya kehidupan dan wajib dimuliakan. Pendapat terakhir ini yang lebih kuat, menggugurkan hanya boleh jika darurat saja karena alasan yang dibenarkan dari pakarnya.
  7. Imam Ahmad berpendapat bahwa jika keguguran setelah 4 bulan (120 hari), maka janin dishalatkan, dikafani dan dikuburkan. Sedangkan ulama lainnya seperti Syafi’iyah berpandangan bahwa mesti menunggu sampai bayi tersebut lahir. Karena jika janin gugur dalam kandungan, maka tidak dianggap manusia sehingga tidak perlu dishalatkan. Namun pendapat pertama dari Imam Ahmad itulah yang lebih kuat.
  8. Hanya Allah yang mengetahui apa yang terjadi dalam rahim. Ini bukan berarti dokter tidak bisa mengetahui janin tersebut laki-laki ataukah perempuan. Namun dokter tidak bisa mengungkapkan secara detail apa yang ada dalam rahim sampai perihal takdirnya.
  9. Rezeki, ajal, amal, bahagia ataukah sengsara dari setiap manusia sudah diketahui, dicatat, dikehendaki dan ditetapkan oleh Allah.
  10. Rezeki sudah ditetapkan bukan berarti manusia tidak perlu bekerja dan berusaha. Manusia diketahui takdirnya oleh Allah, bukan berarti manusia tidak punya pilihan. Sama juga dengan jodoh sudah ditetapkan bukan berarti tidak perlu mencari jodoh lalu tunggu jodoh datang dengan sendirinya. Logikanya, kalau akan kena musibah, seseorang akan berusaha menyelamatkan diri. Begitu pula dalam hal seseorang mencuri harta orang lain, tidak boleh ia beralasan dengan takdir, “Ini sudah jadi takdir saya.” Karena orang berakal tidak mungkin beralasan seperti itu. Ia mencuri pasti karena pilihannya.
  11. Manusia tidak mengetahui takdir yang ditetapkan untuknya. Sehingga manusia tetap harus ada usaha dan amal, tidak boleh ia hanya sekedar pasrah pada takdir.
  12. Amalan merupakan sebab seseorang untuk masuk surga. Dalam hadits disebutkan, “Seseorang tidaklah masuk surga kecuali sebab amalnya.” (HR. Bukhari, no. 5673 dan Muslim, no. 2816). Jadi masuk surga bukanlah karena gantian dari amal kita. Namun karena sebab amal, datang rahmat Allah yang membuat kita bisa masuk surga. Dalam ayat disebutkan pula (yang artinya), “Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Az-Zukhruf: 72)
  13. Bahagia ataukah sengsara tergantung dari amalan akhir seseorang itu seperti apa.
  14. Ada orang yang beramal dengan amalan penduduk surga menurut pandangan manusia, namun akhir hidupnya adalah suul khatimah (akhir jelek). Ada juga manusia yang dianggap hina oleh orang-orang sekitarnya karena dosanya begitu banyak. Namun ia tutup hidupnya dengan taubat, sehingga ia mati husnul khatimah (mati baik) dan akhirnya masuk surga.
  15. Untuk meraih husnul khatimah (akhir hidup yang baik) ada cara yang bisa ditempuh: (a) Perbanyak doa siang dan malam. Di antara doa yang bisa terus dipanjatkan, ‘YAA MUQOLLIBAL QULUUB TSABBIT QOLBII ‘ALAA DIINIK’ (Artinya: Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu); (b) Memperbanyak amalan ketaatan dan setiap amalan ketaatan akan mewariskan amalan ketaatan selanjutnya; ingat yang dinilai adalah akhir amal kita; (c) Menjauhkan diri dari kemunafikan; (d) Berusaha meninggalkan maksiat karena maksiat adalah sebab suul khatimah.
  16. Apakah kita bahagia ataukah sengsara kelak di akhirat sudah diketahui dalam takdir.
  17. Akhir kehidupan manusia antara syaqo’ (sengsara) ataukah sa’adah (berbahagia).
sumber: ngaji.id, rumaysho.com


Baca Selengkapnya

Hadis Arbain #3: Rukun Islam dan Hukum Meninggalkan Shalat

 Kang Muroi     January 20, 2026     Hadis Arbain     No comments   

Hadis Arbain #3: Rukun Islam dan Hukum Meninggalkan Shalat
Hadis Arbain #3

Pada kesempatan kali ini kami akan membahas tentang penjelasan rukun Islam, sekaligus ada pelajaran tentang hukum meninggalkan shalat. Kita bisa pahami dari hadits yang ke-3 dari Arbain An-Nawawiyah berikut ini.
Baca Selengkapnya

Hadis Arbain #2 : Pengertian Islam, Iman, Ihsan dan Tanda Kiamat

 Kang Muroi     January 20, 2026     Hadis Arbain     No comments   

Hadis Arbain #2 : Pengertian Islam, Iman, dan Ihsan
Hadis Arbain #2

Pada kesempatan kali ini admin akan membahas hadits arbain ke 2. Yaitu hadits tentang Islam, iman dan ihsan yang juga diriwayatkan oleh ‘‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. Dalam hadits ini beliau mengatakan:

Baca Selengkapnya

Hadis Arbain #1: Setiap Amalan Tergantung pada Niatnya

 Kang Muroi     January 20, 2026     Hadis Arbain     No comments   

Hadis Arbain ke-1
Hadis Arbain ke-1

Pada kesempatan kali ini kita kaji hadits Al-Arbain An-Nawawiyah nomor pertama, tentang niat yaitu setiap amalan tergantung pada niat.

Arbain Nawawi ke-1 dan Terjemah

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ


Dari Amirul Mukminin Abu Hafsin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya semua amal tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan. Maka, barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju. (HR. Bukhari dan Muslim)


Penjelasan Hadits

Hadits Arbain Nawawi 1 ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Gelar amirul mukminin baru populer setelah Umar menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar Ash Shiddiq radiyallahu ‘anhu. Abu Hafsin merupakan nama kunyah Umar.

Orang Arab biasa memiliki tiga nama. Nama ism, nama kunyah, dan nama laqab. Nama ism (اسم) adalah nama asli dan umumnya hanya satu kata. Misalnya Umar atau Utsman. Nama kunyah (كنية) adalah nama panggilan atau julukan yang sering kali terambil dari nama anak. Misalnya nama kunyah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu adalah Abu Abdillah. Menurut sebagian ulama, nama kunyah Umar dalam hadits ini juga terambil dari Hafshah putrinya. Namun, menurut sebagian ulama lainnya, Hafshin artinya singa. Umar mendapat nama kunyah itu karena ia kuat dan cepat seperti singa.

Nama laqab (لقب) adalah gelar yang tersemat pada seseorang karena karakter atau jasanya. Umar memiliki nama laqab Al-Faruq. Sedangkan Utsman memiliki laqab Dzunnurain.

Kata innama (إنما) merupakan adatul hashr (pembatas) yakni menetapkan sesuatu yang disebut setelahnya dan menafikan sesuatu yang tidak disebut.

Al-a’mal (الأعمال) merupakan bentuk jamak dari ‘amal (العمل) yakni perbuatan. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan amal di sini adalah perbuatan mukallaf (ibadah) sehingga perbuatan orang kafir tidak termasuk dalam kategori ini.

An-niyyaat (النيات) merupakan bentuk jamak dari niat (نية). Secara etimologi, niat adalah keinginan atau kehendak. Secara terminologi, niat adalah kehendak yang dibarengi dengan tindakan nyata. Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu menjelaskan bahwa menurut istilah syara’, niat adalah tekad hati untuk melakukan amalan fardhu atau yang lain.

Kata imri’in (امرئ) artinya adalah manusia baik laki-laki maupun perempuan. Sedangkan ma nawa (ما نوى) artinya apa yang ia niatkan atau apa yang ia tuju.

Faedah Hadits

1- Dalam Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam (1:61) Hadits ini dikatakan oleh Imam Ahmad sebagai salah satu hadits pokok dalam agama kita (disebut ushul al-islam). Imam Ibnu Daqiq Al-‘Ied dalam syarhnya (hlm. 27) menyatakan bahwa Imam Syafi’i mengatakan kalau hadits ini bisa masuk dalam 70 bab fikih. Ulama lainnya menyatakan bahwa hadits ini sebagai tsulutsul Islam (sepertiganya Islam).

2- Tidak mungkin suatu amalan itu ada kecuali sudah didahului niat. Adapun jika ada amalan yang tanpa niat, maka tidak disebut amalan seperti amalan dari orang yang tertidur dan gila. Sedangkan orang yang berakal tidaklah demikian, setiap beramal pasti sudah memiliki niat. Para ulama mengatakan, “Seandainya Allah membebani suatu amalan tanpa niat, maka itu sama halnya membebani sesuatu yang tidak dimampui.”

3- “Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan”, maksud hadits ini adalah setiap orang akan memperoleh pahala yang ia niatkan.

Coba perhatikan dua hadits berikut ini.

Dari Abu Yazid Ma’an bin Yazid bin Al Akhnas radhiyallahu ‘anhum, -ia, ayah dan kakeknya termasuk sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, di mana Ma’an berkata bahwa ayahnya yaitu Yazid pernah mengeluarkan beberapa dinar untuk niatan sedekah. Ayahnya meletakkan uang tersebut di sisi seseorang yang ada di masjid (maksudnya: ayahnya mewakilkan sedekah tadi para orang yang ada di masjid, -pen). Lantas Ma’an pun mengambil uang tadi, lalu ia menemui ayahnya dengan membawa uang dinar tersebut. Kemudian ayah Ma’an (Yazid) berkata, “Sedekah itu sebenarnya bukan kutujukan padamu.” Ma’an pun mengadukan masalah tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَكَ مَا نَوَيْتَ يَا يَزِيدُ ، وَلَكَ مَا أَخَذْتَ يَا مَعْنُ

“Engkau dapati apa yang engkau niatkan wahai Yazid. Sedangkan, wahai Ma’an, engkau boleh mengambil apa yang engkau dapati.” (HR. Bukhari, no. 1422).

Hadits di atas menunjukkan bahwa Setiap orang akan diganjar sesuai yang ia niatkan walaupun realita yang terjadi ternyata menyelisihi yang ia maksudkan. Termasuk dalam sedekah, meskipun yang menerima sedekah adalah bukan orang yang berhak.

Hadits kedua, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« يَغْزُو جَيْشٌ الْكَعْبَةَ ، فَإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنَ الأَرْضِ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ » . قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ، وَفِيهِمْ أَسْوَاقُهُمْ وَمَنْ لَيْسَ مِنْهُمْ . قَالَ « يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ، ثُمَّ يُبْعَثُونَ عَلَى نِيَّاتِهِمْ »

“Akan ada satu kelompok pasukan yang hendak menyerang Ka’bah, kemudian setelah mereka berada di suatu tanah lapang, mereka semuanya dibenamkan ke dalam perut bumi dari orang yang pertama hingga orang yang terakhir.” ‘Aisyah berkata, saya pun bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah semuanya dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, sedangkan di tengah-tengah mereka terdapat para pedagang serta orang-orang yang bukan termasuk golongan mereka (yakni tidak berniat ikut menyerang Ka’bah)?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Mereka semuanya akan dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, kemudian nantinya mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka.” (HR. Bukhari, no. 2118 dan Muslim, no. 2884, dengan lafal dari Bukhari).

4- Niat itu berarti bermaksud dan berkehendak. Letak niat adalah di dalam hati. Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

وَالنِّيَّةُ مَحَلُّهَا الْقَلْبُ بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ ؛ فَإِنْ نَوَى بِقَلْبِهِ وَلَمْ يَتَكَلَّمْ بِلِسَانِهِ أَجْزَأَتْهُ النِّيَّةُ بِاتِّفَاقِهِمْ

“Niat itu letaknya di hati berdasarkan kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat di hatinya tanpa ia lafazhkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 18:262)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Siapa saja yang menginginkan melakukan sesuatu, maka secara pasti ia telah berniat. Semisal di hadapannya disodorkan makanan, lalu ia punya keinginan untuk menyantapnya, maka ketika itu pasti ia telah berniat. Demikian ketika ia ingin berkendaraan atau melakukan perbuatan lainnya. Bahkan jika seseorang dibebani suatu amalan lantas dikatakan tidak berniat, maka sungguh ini adalah pembebanan yang mustahil dilakukan. Karena setiap orang yang hendak melakukan suatu amalan yang disyariatkan atau tidak disyariatkan pasti ilmunya telah mendahuluinya dalam hatinya, inilah yang namanya niat.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 18:262)

5- Niat ada dua macam: (1) niat pada siapakah ditujukan amalan tersebut (al-ma’mul lahu), (2) niat amalan.

Niat jenis pertama adalah niat yang ditujukan untuk mengharap wajah Allah dan kehidupan akhirat. Inilah yang dimaksud dengan niat yang ikhlas.

Sedangkan niat amalan itu ada dua fungsi:

Fungsi pertama adalah untuk membedakan manakah adat (kebiasaan), manakah ibadah. Misalnya adalah puasa. Puasa berarti meninggalkan makan, minum dan pembatal lainnya. Namun terkadang seseorang meninggalkan makan dan minum karena kebiasaan, tanpa ada niat mendekatkan diri pada Allah. Terkadang pula maksudnya adalah ibadah. Oleh karena itu, kedua hal ini perlu dibedakan dengan niat.

Fungsi kedua adalah untuk membedakan satu ibadah dan ibadah lainnya. Ada ibadah yang hukumnya fardhu ‘ain, ada yang fardhu kifayah, ada yang termasuk rawatib, ada yang niatnya witir, ada yang niatnya sekedar shalat sunnah saja (shalat sunnah mutlak). Semuanya ini dibedakan dengan niat.

6- Hijrah itu berarti meninggalkan. Secara istilah, hijrah adalah berpindah dari negeri kafir ke negeri Islam. Hijrah itu hukumnya wajib bagi muslim ketika ia tidak mampu menampakkan lagi syiar agamanya di negeri kafir. Hijrah juga bisa berarti berpindah dari maksiat kepada ketaatan.

7- Dalam beramal butuh niat ikhlas. Karena dalam hadits disebutkan amalan hijrah yang ikhlas dan amalan hijrah yang tujuannya untuk mengejar dunia. Hijrah pertama terpuji, hijrah kedua tercela.

Ibnu Mas’ud menceritakan bahwa ada seseorang yang ingin melamar seorang wanita. Wanita itu bernama Ummu Qais. Wanita itu enggan untuk menikah dengan pria tersebut, sampai laki-laki itu berhijrah dan akhirnya menikahi Ummu Qais. Maka orang-orang pun menyebutnya Muhajir Ummu Qais. Lantas Ibnu Mas’ud mengatakan, “Siapa yang berhijrah karena sesuatu, fahuwa lahu (maka ia akan mendapatkannya, pen.).” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:74-75. Perawinya tsiqah sebagaimana disebutkan dalam Tharh At-Tatsrib, 2:25. Namun Ibnu Rajab tidak menyetujui kalau cerita Ummu Qais jadi landasan asal cerita dari hadits innamal a’malu bin niyyat yang dibahas). Namun tentu hijrah bukan karena lillah, cari ridha-Nya, maka tidak dibalas oleh Allah.

Amalan lainnya sama dengan hijrah, benar dan rusaknya amal tersebut tergantung pada niat. Demikian kata Ibnu Rajab dalam Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:75.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

“Barangsiapa menuntut ilmu hanya ingin digelari ulama, untuk berdebat dengan orang bodoh, supaya dipandang manusia, Allah akan memasukkannya dalam neraka.” (HR. Tirmidzi, no. 2654 dan Ibnu Majah, no. 253. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.)

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, di mana ia berkata,

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ فَقَالَ « أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِى مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ ». قَالَ قُلْنَا بَلَى. فَقَالَ « الشِّرْكُ الْخَفِىُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّى فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ »


“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menemui kami dan kami sedang mengingatkan akan (bahaya) Al-Masih Ad Dajjal. Lantas beliau bersabda, “Maukah kukabarkan pada kalian apa yang lebih samar bagi kalian menurutku dibanding dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal?” “Iya”, para sahabat berujar demikian kata Abu Sa’id l- Khudri. Beliau pun bersabda, “Syirik khafi (syirik yang samar) di mana seseorang shalat lalu ia perbagus shalatnya agar dilihat orang lain.” (HR. Ibnu Majah, no. 4204. Al-Hafiz Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan.)


sumber : rumaysho.com
Baca Selengkapnya

Kisah Penuh Hikmah dari Buku Al-Qiraah Al-Rasyidah; Petani Tua yang Menanam Pohon Untuk Anak Cucunya

 Kang Muroi     November 10, 2023     Cerita Motivasi, Kisah Hikmah     1 comment   

Petani Tua yang Menanam Pohon Untuk Anak Cucunya
ilustrasi pohon (dok:blibli.com)

Alkisah, suatu hari, Raja Anusyirwan dari Kerajaan Persi sedang berkeliling di daerah pinggiran kota bersama para pengawalnya. Dalam perjalanan itu ia bertemu seorang petani tua yang sedang menanam bibit pohon zaitun. Raja berhenti sejenak dengan penuh rasa heran melihat sang petani.

Apa yang ada dalam pikirannya? Ia sudah sangat tua renta, tak akan mungkin ia hidup sampai pohon yang ditanamnya itu berbuah.

Raja pun kemudian mendekat dan bertanya kepada sang petani, “Wahai Syaikh, kukira saat ini sudah bukan lagi masanya untukmu menanam pohon zaitun. Pohon ini adalah jenis tanaman yang lama masa tumbuh dan berbuahnya, sedangkan usiamu sudah sangat tua”.

“Wahai Paduka Raja, orang-orang dari generasi sebelum kita telah menanam pohon (zaitun) dan kitalah yang menikmati hasilnya. Sekarang kita yang bertugas menanam, untuk nanti dinikmati oleh generasi selanjutnya,” jawab sang petani.

Mendengar ucapan sang petani tua itu, Raja begitu kaget dan kagum atas jawaban tersebut. Seketika ia memberikan pujian atas kekagumannya dengan mengatakan, “zih,”

Sudah menjadi tabiat Raja yang telah diketahui seluruh penduduk negeri, apabila ia telah memberikan pujian kepada seseorang, maka orang itu akan diberinya hadiah berupa uang yang cukup bernilai. Dengan segera, pengawal pun memberikan hadiah tersebut kepada sang petani tua.

Setelah menerima hadiah, sang petani tua melanjutkan bicaranya kepada Raja, “Wahai Paduka, bagaimana mungkin pula engkau tau bahwa pohon tanamanku ini akan tumbuh dan berbuah dalam masa yang lama?”

Raja pun tercengang dan tak mampu menjawab pertanyaan sang petani. Ia kembali berkata, “Zih!” Dan diberikanlah hadiah untuk sang petani untuk kedua kalinya.

Setelah menerima hadiah kedua, sang petani tua masih melanjutkan ucapannya lagi, “Wahai paduka, setiap pohon zaitun hanya berbuah sekali dalam satu tahun, tetapi pohon zaitun milikku bisa berbuah dua kali dalam satu musim.”

Mendengar ucapan itu, Raja semakin heran dan kembali berkata “Zih!” dan memberikan hadiah untuk ketiga kalinya.

Tak lama kemudian, Sang Raja segera mengajak pengawalnya untuk pergi seraya berbisik, “Mari kita segera pergi! Jika terlalu lama di sini, petani tua itu akan menghabiskan seluruh isi lumbung harta kita.”

Sebagaimana sang petani tua, sudah seharusnya laku kebaikan selalu disertai rasa ikhlas untuk kemaslahatan bersama. Amal baik bukan perihal untung rugi atau seberapa besar pahala yang akan diri sendiri dapatkan. Melainkan perihal kebermanfaatan untuk kehidupan yang lebih luas.

Kisah yang disarikan dari al-Qiraah al-Rasyidah ini berkaitan dengan eksistensi kekayaan alam yang kita nikmati sekarang. Alam adalah anugerah Allah SWT yang harus disyukuri dengan menjaganya. Keindahan dan segala kemanfaatannya dari alam merupakan hasil dari tanaman dan penjagaan para generasi terdahulu. Maka dari itu sekarang saatnya bagi kita untuk menjaga alam sekaligus menanam kembali sebagai warisan untuk keberlangsungan hidup generasi anak cucu selanjutnya.

***

Baca Selengkapnya

Kisah Layang-Layang; Optimisme Dimulai dengan Membangun Harapan, Bukan Bersedih

 Kang Muroi     November 08, 2023     Cerita Motivasi, Kisah Hikmah     No comments   

Kisah Layang-Layang; Optimisme Dimulai dengan Membangun Harapan, Bukan dengan Bersedih
layang-layang (dok:superlive.id)

Di sebuah taman kota, duduk dua orang di sebuah bangku panjang. Keduanya tampak akrab, seakan mereka baru saja bertemu setelah berpisah lama. Sesekali terdengar tawa berderai di tengah percakapan yang mereka lakukan. Seseorang di antara mereka tampak berbicara, "Paman, ada satu hal yang mengganjal dalam pikiranku. Mengapa dulu kau berikan aku layang-layang saat ayah meninggal? Bukankah benda itu tak lazim diberikan sebagai tanda belasungkawa? Sampai kini, aku masih memikirkan maksud pemberian itu buatku."

Sang Paman tampak mendengarkan. Matanya meneliti wajah pemuda di depannya dengan seksama. "Jadi, kamu masih menyimpan layang- layang itu?" Pemuda itu menjawab, "Ya. Aku masih ingin tahu apa arti semua itu buatku. Aku kehilangan harapan setelah Ayah meninggal. Aku masih bersedih hingga saat ini, sebab orang yang kucintai tak lagi bersamaku. Ayah sangat berarti buatku. Seakan semua impianku hilang saat Ayah meninggal." Mata pemuda itu mulai berkaca-kaca.

"Saat itu, bukanlah waktu yang tepat untuk bermain layang-layang, lalu mengapa paman memberikannya buatku?"

Mata sang paman terus meneliti wajah ke ponakannya. "Nak, kami juga semua bersedih saat kehilangan Ayahmu. Namun, janganlah kamu juga ikut berputus asa. Layang-layang itu kuberikan padamu, agar kau bisa menegakkan kepalamu saat bersedih. Pandanglah ke langit, tataplah ke angkasa. Layang-layang itu adalah sebagai pengingat, bahwa selalu ada harapan di atas sana. Layang-layang itu adalah sebagai tanda, bahwa akan selalu ada curahan kebahagiaan yang turun dari-Nya. Terbangkan layang-layangmu setinggi- tingginya, seperti halnya kau terbangkan semua impianmu. Tapi ingat, pegang erat benang di tanganmu, agar tak kehilangan arah dalam menggapai hasratmu."

Keduanya saling berpandangan. "Terima kasih paman. Aku akan mengingat semua ucapan paman hari ini. Aku percaya, Ayah akan juga mendengar." Wajah serius paman mulai cair, dan ia kembali berpesan, "Ingat, Nak, selalu ada harapan dari Allah di atas sana. Terbangkanlah layang-layangmu, naikkan setinggi-tingginya. Pandanglah ke atas, tegakkan kepalamu setiapkali bersedih, sebab Allah akan memberimu curahan rahmat dan berkah-Nya dari langit.

Lelaki itu melanjutkan ucapannya, "Tataplah ke angkasa, angkat kepalamu setiap kali kau merasa tak bahagia, percayalah di atas sana selalu ada Allah yang akan mendengar setiap doamu."

***

Teman, layang-layang adalah permainan sederhana. Walaupun saya percaya tak semua orang dapat menerbangkannya. Layang-layang juga digemari oleh sebagian anak kecil, walaupun saya juga percaya, banyak orang dewasa yang juga memainkannya. Namun, apakah layang-layang hanya berarti sebagai alat permainan, sementara ada makna tersembunyi yang seharusnya kita gali? Apakah layang-layang cuma dianggap alat pengisi waktu luang, sementara di dalamnya ada sesuatu yang berbeda?

Layang-layang dimainkan dengan kepala tegak dan bukan dengan menunduk. Layang-layang diterbangkan, bukan dengan wajah ke arah bawah, tapi dengan menatapnya ke angkasa. Begitupun kita di dalam hidup. Layang-layang adalah tanda agar kita selalu percaya bahwa optimisme dimulai dengan membangun harapan, bukan dengan bersedih. Layang-layang adalah pengingat buat kita bahwa semangat baru akan hadir bagi mereka yang berpikir positif.

Dan teman, terbangkanlah layang-layang harapanmu setinggi-tingginya. Gapailah rahmat Allah di atas sana. Naikkanlah layang-layang impianmu hingga langit yang menjadi batasnya. Raihlah berkah dari Allah di atas sana. Tegakkan kepalamu. Pandanglah langit dengan sempurna. Tataplah angkasa, susuri kumpulan awan di sana. Percayalah, akan selalu ada harapan dari Allah di sana.

*****

Baca Selengkapnya
Newer Posts Older Posts Home

Popular Posts

  • 3 Langkah Mengganti Tulisan Poskan Komentar
  • Kumpulan Mahfudzat; Part 1
  • Ramalan Zodiak Versi Sunda; Humor
  • Diantara Penghalang Pintu Rizki
  • Pertamax Lebih Mahal Dari Premium

Recent Posts

Blog Archive

Popular Posts

  • Anjuran Imam Syafi'i Untuk Merantau
  • Ramalan Zodiak Versi Sunda; Humor
  • Dosa Berjamaah
  • Menikmati Eksotisme Wisata Pantai Sawarna, Lebak, Banten

Pages

  • About Us
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Sitemap
  • Parse HTML
  • Color Picker

Hikmah

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)

“Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang dengannya dapat memperoleh keridhoan Allah SWT, (tetapi) ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan kesenangan duniawi, maka ia tidak akan mendapatkan harumnya surga di hari kiamat nanti.” (HR Abu Daud)

Copyright © Kang Muro'i | Powered by Blogger

Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com