Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Muthola'ah Kelas 5 KMI Beserta Terjemahannya #9: Kecerdasan Sang Hakim

Kecerdasan sang hakim Muthola’ah memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan pesantren. Pelajaran ini membantu kita memah…

Muthola'ah Kelas 5 KMI Beserta Terjemahannya #9: Kecerdasan Sang Hakim
Kecerdasan sang hakim

Muthola’ah memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan pesantren. Pelajaran ini membantu kita memahami sumber-sumber utama ajaran Islam seperti Al-Quran dan Hadits. Dengan mempelajari Mutholaah, kita bisa menggali makna yang lebih dalam dari ajaran agama. Hal ini membuat pemahaman kita tentang Islam menjadi lebih kuat dan menyeluruh.

Dan berikut ini adalah teks Muthola'ah Kelas 5 KMI yang berharakat lengkap beserta terjemahan bagian 9 yang bercerita tentang kecerdasan seorang hakim.

ذَكَاءُ الْقَاضِي

اسْتَأْجَرَ أَحَدُ التُّجَّارِ جَمَّالًا يَحْمِلُ لَهُ بِضَاعَةً نَفِيسَةً مِنَ الْحَرِيرِ وَالدِّيبَاجِ، اشْتَرَاهَا مِنْ حَلَبَ لِيَتَّجِرَ بِهَا فِي إِسْتَنْبُولَ، وَاتَّفَقَ مَعَهُ عَلَى كِرَاءٍ مَعْدُودٍ، وَسَارَ الرَّكْبُ يَقْطَعُ الطَّرِيقَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا

وَبَعْدَ مَسِيرَةِ أَيَّامٍ قَلِيلَةٍ عَرَا التَّاجِرَ مَرَضٌ شَدِيدٌ، اضْطَرَّهُ إِلَى التَّخَلُّفِ عَنِ الرَّكْبِ، وَالتَّرَيُّثِ فِي أَقْرَبِ قَرْيَةٍ يَتَمَرَّضُ فِيهَا حَتَّى يَبْلَ، فَوَصَّى الْجَمَّالَ بِمَتَاعِهِ، وَأَذِنَ لَهُ بِمُتَابَعَةِ السَّيْرِ عَلَى الطَّائِرِ الْمَيْمُونِ، وَانْتِظَارِهِ فِي إِسْتَنْبُولَ إِلَى أَنْ يَلْحَقَ بِهِ

وَمَا كَادَ الْجَمَّالُ يَبْلُغُ ذَلِكَ الْمَكَانَ الْقَصِيَّ، حَتَّى وَسْوَسَ الشَّيْطَانُ فِي صَدْرِهِ، وَسَوَّلَتْ لَهُ النَّفْسُ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوءِ أَنْ يُخْفِرَ ذِمَّتَهُ، يَنْقُضَ عَهْدَهُ، وَيَخُونَ مَنِ ائْتَمَنَهُ

فَبَاعَ الْبِضَاعَةَ بِثَمَنٍ بَخْسٍ، وَغَيَّرَ اسْمَهُ وَلَبُوسَهُ، وَادَّعَى أَنَّهُ تَاجِرٌ لِيُدَلِّسَ عَلَى النَّاسِ، وَلِكَيْلَا يَهْتَدِيَ التَّاجِرُ إِلَيْهِ مَتَى حَضَرَ وَجَدَّ فِي الْبَحْثِ عَنْهُ. وَلَمَّا قَدِمَ التَّاجِرُ إِلَى الْمَدِينَةِ، طَلَبَ الرَّجُلَ فَلَمْ يَقِفْ لَهُ عَلَى خَبَرٍ. فَطَفِقَ يَطُوفُ أَنْحَاءَهَا لَعَلَّهُ يَقَعُ بِهِ بِالْمُصَادَفَةِ. فَرَآهُ فِي الطَّرِيقِ مُتَنَكِّرًا مُسْتَخْفِيًا فِي زِيِّ التُّجَّارِ، فَأَمْسَكَ بِتَلَابِيبِهِ وَاسْتَصْرَخَ وَاسْتَغَاثَ، فَأَقْبَلَ رِجَالُ الشُّرْطَةِ وَسَاقُوهُمَا إِلَى الْقَاضِي، وَهُنَاكَ قَصَّ التَّاجِرُ قِصَّتَهُ، فَأَنْكَرَهَا الْجَمَّالُ وَقَالَ إِنَّهَا فِرْيَةُ كَاذِبٍ مُحْتَالٍ، يُرِيدُ أَنْ يَسْتَلِبَ مَا مَعَهُ مِنَ الْمَالِ. وَلَمْ يَكُنْ لَدَى التَّاجِرِ الْمَسْرُوقِ بَيِّنَةٌ يُقِيمُ بِهَا حُجَّتَهُ عَلَى غَرِيمِهِ. وَأَدْرَكَ الْقَاضِي مِنْ خِلَالِ الْحَدِيثِ إِنَّ التُّهْمَةَ صَحِيحَةٌ، فَصَمَّمَ عَلَى أَنْ يَسِيرَ الْمَسْأَلَةَ بِالْحِيلَةِ وَالدَّهَاءِ، فَأَمَرَ الرَّجُلَيْنِ بِالِانْصِرَافِ مِنْ أَمَامِهِ، حَتَّى إِذَا مَا أَبْعَدَا عَنْهُ قَيْدَ قَصْبَةٍ صَاحَ عَلَيْهِمَا: "يَا جَمَّالُ!" فَالْتَفَتَ ذَلِكَ الْخَائِنُ الْمُتَنَكِّرُ، وَقَالَ: "مَهْيَمْ" فَقَامَتْ عَلَيْهِ تِلْكَ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ، وَأُجْبِرَ عَلَى رَدِّ الْمَالِ إِلَى صَاحِبِهِ، وَنَالَ شَدِيدَ الْعِقَابِ، جَزَاءَ مَا اقْتَرَفَ مِنَ الْخِيَانَةِ وَالْعُدْوَانِ


المُفْرَدَاتُ

جَمَّالًا : Penggembala/penyewa unta
الدِّيبَاجِ : Kain sutra emboz (bercorak/berhias emas)
كِرَاءٍ : Upah sewa
عَرَا : Menimpa / melanda
يَبْلَ : Sembuh / pulih dari sakit
الْقَصِيَّ : Yang jauh
وَسْوَسَ : Membisikkan godaan
سَوَّلَتْ : Membujuk / menghasut
يُخْفِرَ ذِمَّتَهُ : Mengingkari janji / merusak sumpah
بَخْسٍ : Sangat murah / rendah harganya
لِيُدَلِّسَ : Untuk mengelabui / menipu
فَطَفِقَ : Maka ia mulai
فِرْيَةُ : Kebohongan besar / fitnah
غَرِيمِهِ : Lawan perkaranya / musuhnya
قَيْدَ قَصْبَةٍ : Sejarak satu depa / jarak yang sangat dekat
مَهْيَمْ : Ada apa? / Ada keperluan apa? (kata seru kuno)
اقْتَرَفَ : Melakukan (perbuatan dosa atau kejahatan)


Kecerdasan Sang Hakim

Seorang pedagang menyewa seorang penggembala unta untuk mengangkut barang dagangannya yang berharga berupa kain sutra dan kain dibaj (sutra bercorak emas). Barang-barang tersebut ia beli dari Aleppo untuk diperdagangkan di Istanbul. Ia menyepakati upah sewa yang telah ditentukan dengan penggembala tersebut, lalu rombongan itu pun berangkat menempuh perjalanan dengan aman dan tenang.

Setelah menempuh perjalanan beberapa hari, sang pedagang tertimpa penyakit parah. Kondisi tersebut memaksanya untuk tertinggal dari rombongan dan beristirahat di desa terdekat guna merawat diri hingga sembuh. Ia pun menitipkan barang dagangannya kepada si penggembala unta, mengizinkannya untuk melanjutkan perjalanan dengan iringan doa keselamatan, serta memintanya untuk menunggu di Istanbul sampai ia menyusul nanti.

Namun, baru saja si penggembala unta mencapai tempat yang jauh tersebut, setan mulai membisikkan godaan ke dalam dadanya. Nafsu yang mendorong pada keburukan telah menghasutnya untuk mengingkari sumpah, merusak janji, dan mengkhianati orang yang telah memercayainya.Ia pun menjual barang dagangan tersebut dengan harga yang sangat murah, lalu mengubah nama dan pakaiannya.

Ia mengaku-ngaku sebagai seorang pedagang untuk mengelabui masyarakat, serta agar sang pedagang tidak dapat melacak keberadaannya ketika datang dan mencarinya dengan sungguh-sungguh. Ketika sang pedagang tiba di kota tersebut, ia mencari pria itu tetapi tidak mendapatkan kabar sedikit pun mengenai keberadaannya. Maka, ia mulai mengitari setiap sudut kota dengan harapan dapat berpapasan dengannya secara kebetulan.

Akhirnya, ia melihat pria itu di jalan dalam keadaan menyamar dan bersembunyi di balik pakaian para pedagang. Sang pedagang langsung memegang kerah bajunya sambil berteriak meminta pertolongan. Petugas kepolisian pun datang dan membawa keduanya menghadap hakim. Di hadapan hakim, sang pedagang menceritakan kisahnya, tetapi si penggembala unta menyangkalnya dan berdalih bahwa cerita itu hanyalah kebohongan besar dari seorang penipu yang ingin merampas harta miliknya. Sang pedagang yang kecurian itu pun tidak memiliki bukti nyata untuk memperkuat argumennya di hadapan lawan perkaranya.

Melalui percakapan tersebut, hakim menyadari bahwa tuduhan itu benar adanya. Beliau memutuskan untuk menyelesaikan perkara ini dengan siasat dan kecerdikan. Hakim lalu memerintahkan kedua pria itu untuk pergi dari hadapannya. Begitu jarak mereka sudah agak menjauh, hakim tiba-tiba berteriak memanggil, "Wahai penggembala unta!" Sontak, pengkhianat yang sedang menyamar itu menoleh dan menyahut, "Ada apa?" Maka tegaklah bukti yang sangat kuat atas dirinya. Ia pun dipaksa untuk mengembalikan seluruh harta kepada pemiliknya dan menerima hukuman yang sangat berat sebagai balasan atas pengkhianatan dan kezaliman yang telah ia lakukan.

Bahasa ArabMuthola'ah

Post a Comment for "Muthola'ah Kelas 5 KMI Beserta Terjemahannya #9: Kecerdasan Sang Hakim"

Artikel Terkini

Kembali ke atas