24 Jan 2013

Tentang Warna

warna
Tentang Warna | Ada dua orang anak selalu berkelahi. Dalam banyak hal mereka tidak pernah akur. Mereka selalu berselisih paham. Saat yang satu berpendapat A, maka yang lain pasti punya pendapat yang berbeda. Mereka lakukan hal ini dimana saja. Di sekolah, di rumah ataupun di tempat bermain. Tentu saja hal tersebut sangat merepotkan guru mereka. Karena menggangu orang lain.

Suatu pagi ibu guru memanggil kedua anak tersebut. Ia meminta mereka masuk kedalam ruangan yang berbeda. Ruangan itu hanya dipisahkan oleh sebuah tembok, namun ibu guru masih dapat melihat, apa yang nereka lakukan dari kejauhan.

Di ruangan itu terdapat meja dengan selembar kertas diatasnya. Ibu guru meminta mereka menyebutkan apa warna kertas itu. Lagi-lagi mereka berselisih paham. Anak yang pertama bilang, "Kertas itu putih!" dari ruangan sebelahnya terdengar teriakan, "Bukan, bukan putih, kertas itu berwarna hitam. "Putih! Hitam! Putih! Hitam!!! Terdengar suara saling bersahutan.

Suara mereka semakin riuh. Perdebatan kedua anak itu semakin sengit. "Hei dasar buta warna, apa kamu tidak bisa melihat? Kertas itu putih, tahu!" Anak kedua tak mau kalah. "Buta warna? Hei, apa kamu tidak bisa membedakan antara hitam dan putih? Jelas-jelas itu kertas hitam."

Mendengar itu semua, ibu guru berkata, "Tenang, tenang anak-anak. Sekarang coba kalian kemari." Ia mengajak kedua anak itu menghampirinya. " Nah sekarang coba kalian berpindah tempat dan katakan apa warna kertas diatas meja itu!"

Kedua anak itu menurut. Mereka berpindah ruangan. Anak yang pertama berkata. "Hmmm, hihi...hitam, Bu." Diruangan lain terdengar kata yang serupa. Anak yang kedua berkata, 'Putih, Bu."

Keduanya benar, ternyata ibu guru menyiapkan kedua kertas yang berbeda buat mereka. Ia agaknya ingin memberikan sebuah hikmah bahwa saat mereka berselisih paham bisa jadi sesungguhnya kedua anak itu benar. Tak ada yanag salah dengan pendapat mereka. Hanya mungkin mereka melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda saja.
Kadang kita terlalu tinggi hati untuk mengakui kebenaran orang lain. Kita enggan untuk menyetujui pendapat mereka. Bukan karena pendapat mereka yang salah, tetapi karena kita tidak mau merasa dikalahkan. Kita sering terpesona dengan rasa picik dan tak suka jika ada orang yang lebih baik.

Semoga bermanfaat, happy blogging.....