Buku Literasi Budaya dan Kewargaan (Materi Pendukung Gerakan Literasi Nasional)

Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Sementara itu, literasi kewargaan adalah kemampuan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara. Dengan demikian, literasi budaya dan kewargaan merupakan kemampuan individu dan masyarakat dalam bersikap terhadap lingkungan sosialnya sebagai bagian dari suatu budaya dan bangsa.
Literasi Budaya dan Kewargaan

Literasi budaya dan kewargaan menjadi hal yang penting untuk dikuasai di abad ke-21. Indonesia memiliki beragam suku bangsa, bahasa, kebiasaaan, adat istiadat, kepercayaan, dan lapisan sosial. Sebagai bagian dari dunia, Indonesia pun turut terlibat dalam kancah perkembangan dan perubahan global. Oleh karena itu, kemampuan untuk menerima dan beradaptasi, serta bersikap secara bijaksana atas keberagaman ini menjadi sesuatu yang mutlak.

2.2 Prinsip Dasar Literasi Kebudayaan dan Kewargaan

Budaya sebagai Alam Pikir melalui Bahasa dan Perilaku
Bahasa daerah dan tindak laku yang beragam menjadi kekayaan budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Budaya sebagai alam pikir melalui bahasa dan perilaku berarti budaya menjadi jiwa dalam bahasa dan perilaku yang dihasilkan oleh suatu masyarakat. Bahasa daerah dan tindak laku yang beragam menjadi kekayaan budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. 

Misalnya, melalui ungkapan dalam bahasa Jawa memayuhayuningbawono kita mengenal falsafah hidup bahwa manusia harus mampu menjaga lingkungan hidupnya. Ungkapan tersebut tidak hanya memiliki arti filosofis, tetapi juga menyiratkan bahwa perilaku manusianya merupakan bagian dari suatu budaya.

Kesenian sebagai Produk Budaya
Kesenian merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang dihasilkan oleh suatu masyarakat. Indonesia sebagai negara kepulauan yang besar tentunya menghasilkan berbagai bentuk kesenian dari berbagai daerah dengan membawa ciri khas kebudayaan dari daerahnya masing-masing. Berbagai macam bentuk kesenian yang dihasilkan oleh setiap daerah di Indonesia harus dikenalkan kepada masyarakat terutama generasi muda agar mereka tidak tercerabut dari akar budayanya dan kehilangan identitas kebangsaannya.

Kewargaan Multikultural dan Partisipatif
Indonesia memiliki beragam suku bangsa, bahasa, kebiasaaan, adat istiadat, kepercayaan, dan lapisan sosial. Dengan kondisi seperti ini, dibutuhkan suatu masyarakat yang mampu berempati, bertoleransi, dan bekerja sama dalam keberagaman. Semua warga masyarakat dari berbagai lapisan, golongan, dan latar belakang budaya memiliki kewajiban dan hak yang sama untuk turut berpartisipasi aktif dalam kehidupan bernegara.

Nasionalisme
Kesadaraan akan kebangsaan adalah hal penting yang harus dimiliki oleh setiap warga negara. Dengan kecintaan terhadap bangsa dan negaranya, setiap individu akan bertindak sesuai dengan aturan yang berlaku dan menjunjung tinggi martabat bangsa dan negaranya.

Inklusivitas
Di tengah kondisi masyarakat Indonesia yang beragam, pandangan dan perayaan inklusivitas sangat berperan untuk membangun kesetaraan warga. Terbangunnya sikap inklusif akan mendorong setiap anggota masyarakat untuk mencari keuniversalan dari budaya baru yang dikenalnya untuk menyempurnakan kehidupan mereka. 

Pengalaman Langsung
Untuk membangun kesadaran sebagai warga negara, pengalaman langsung dalam bermasyarakat adalah sebuah laku yang besar artinya untuk membentuk ekosistem yang saling menghargai dan memahami.

2.3 Indikator Literasi Budaya dan Kewargaan

Sekolah

Basis Kelas
  1. Jumlah pelatihan tentang literasi budaya dan kewargaan untuk kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan;
  2. Intensitas pemanfaatan dan penerapan literasi budaya dan kewargaan dalam pembelajaran; dan
  3. Jumlah produk budaya yang dimiliki dan dihasilkan sekolah.
Basis Budaya Sekolah
  1. Jumlah dan variasi bahan bacaan bertema budaya dan kewargaan;
  2. Frekuensi peminjaman buku bertemakan budaya dan kewargaan di perpustakaan;
  3. Jumlah kegiatan sekolah yang berkaitan dengan budaya;
  4. Terdapat kebijakan sekolah yang dapat mengembangkan literasi budaya dan nillai-nilai kewargaan sekolah;
  5. Terdapat komunitas budaya di sekolah;
  6. Tingkat ketertiban siswa terhadap aturan sekolah;
  7. Tingkat toleransi siswa terhadap keberagaman yang ada di sekolah; dan
  8. Tingkat partisipasi aktif siswa dalam kegiatan di sekolah.
Basis Masyarakat
  1. Jumlah sarana dan prasarana yang mendukung literasi budaya dan kewargaan; dan
  2. Tingkat keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam mengembangkan literasi budaya
  3. dan kewargaan 
Keluarga

Budaya
  1. Jumlah dan variasi bahan bacaan literasi budaya yang dimiliki keluarga;
  2. Frekuensi membaca bahan bacaan literasi budaya dalam keluarga setiap hari;
  3. Jumlah bacaan literasi budaya yang dibaca oleh anggota keluarga;
  4. Jumlah pelatihan literasi budaya yang aplikatif dan berdampak pada keluarga;
  5. Jumlah kegiatan kebudayaan yang diikuti anggota keluarga;
  6. Tingkat kunjungan keluarga ke tempat yang bernilai budaya (rumah adat, museum, keraton, dan lain-lain);
  7. Tingkat pemahaman keluarga terhadap nilai-nilai budaya;
  8. Jumlah kegiatan kebudayaan yang diikuti anggota keluarga; dan
  9. Jumlah produk budaya yang dimiliki keluarga.

Kewargaan
  1. Jumlah dan variasi bahan bacaan literasi kewargaan yang dimiliki keluarga;
  2. Frekuensi membaca bahan bacaan literasi kewargaan dalam keluarga setiap harinya;
  3. Jumlah bacaan literasi kewargaan yang dibaca oleh anggota keluarga;
  4. Jumlah pelatihan literasi kewargaan yang aplikatif dan berdampak pada keluarga; dan
  5. Intensitas waktu bersama keluarga untuk berdiskusi, berkomunikasi, dan berbagi.
Masyarakat

Budaya
  1. Meningkatnya jumlah dan variasi bahan bacaan literasi budaya yang dimiliki setiap desa;
  2. Meningkatnya frekuensi membaca bahan bacaan literasi budaya setiap hari;
  3. Meningkatnya jumlah bahan bacaan literasi budaya yang dibaca oleh masyarakat setiap hari;
  4. Meningkatnya jumlah partisipasi aktif komunitas, lembaga, atau instansi dalam penyediaan bahan bacaan;
  5. Meningkatnya jumlah fasilitas publik yang mendukung literasi budaya;
  6. Meningkatnya jumlah kegiatan literasi budaya yang ada di masyarakat;
  7. Meningkatnya partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan literasi budaya;
  8. Meningkatnya jumlah pelatihan literasi budaya yang aplikatif dan berdampak pada masyarakat;
  9. Meningkatnya jumlah kegiatan budaya di masyarakat;
  10. Meningkatnya jumlah produk budaya yang dimiliki dan dihasilkan oleh masyarakat; dan
  11. Meningkatnya penggunaan bahasa daerah di suatu daerah.
Kewargaan
  1. Meningkatnya jumlah dan variasi bahan bacaan literasi kewargaan yang dimiliki setiap desa;
  2. Meningkatnya frekuensi membaca bahan bacaan literasi kewargaan setiap hari;
  3. Meningkatnya jumlah bahan bacaan literasi kewargaan yang dibaca oleh masyarakat setiap hari;
  4. Meningkatnya jumlah partisipasi aktif komunitas, lembaga, atau instansi dalam penyediaan bahan bacaan;
  5. Meningkatnya jumlah fasilitas publik yang mendukung literasi kewargaan;
  6. Meningkatnya jumlah kegiatan literasi budaya kewargaan yang ada di masyarakat;
  7. Meningkatnya partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan literasi kewargaan;
  8. Meningkatnya jumlah pelatihan literasi kewargaan yang aplikatif dan berdampak pada masyarakat;
  9. Meningkatnya ketertiban masyarakat terhadap aturan di suatu daerah;
  10. Meningkatnya toleransi masyarakat terhadap keberagaman di suatu daerah;
  11. Meningkatnya ketersediaan akses informasi dan layanan publik; dan
  12. Menurunnya angka kejahatan di masyarakat. 

    Download Buku Literasi Budaya dan Kewargaan (Materi Pendukung Gerakan Literasi Nasional)

    Selengkapnya mengenai Buku Literasi Budaya dan Kewargaan (Materi Pendukung Gerakan Literasi Nasional) ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

    Download File:
    Buku Literasi Budaya dan Kewargaan (Materi Pendukung Gerakan Literasi Nasional)
    Demikian yang bisa Kang Muroi sampaikan mengenai Buku Literasi Budaya dan Kewargaan (Materi Pendukung Gerakan Literasi Nasional). Semoga bisa bermanfaat.

    Hanya seorang blogger biasa yang memulai kegiatan Blogging sejak tahun 2011 hingga sekarang. Saat ini dia tidak focus ngeblog karena sibuk jadi kuli di dunia nyata


    EmoticonEmoticon