28 Apr 2013

Nasi Sudah Menjadi Bubur

nasi sudah menjadi bubur
Nasi Sudah Menjadi Bubur | Sobat Muro’i El-Barezy, dalam kehidupan sehari hari seringkali kita mendengar ataupun mengatakan sendiri "Nasi Sudah Menjadi Bubur" ketika mendapati kejadian yang bersifat penyesalan.  Dan penyesalan itu memang di akhir perbuatan kita. Enak rasanya jika kita belum berbuat apappun sudah menyesal hehe… Sesuatu yang sudah terlanjur terjadi tidak akan mungkin terulang kembali. Seperti dalam pepatah Arab mengatakan :
 لَنْ تَرْجِعَ الأَياَّمُ الَّتيِ مَضَتْ
Tidak akan kembali hari-hari yang telah berlalu.
Sampai nafas yang satu persatu kita keluarkanpun sudah berbeda –beda. Begitu juga dengan perbuatan yang sudah terlanjur kita lakukan, akan sulit untuk kembali lagi, “Nasi Sudah Menjadi Bubur”.

Tapi betulkah ungkapan ini? Atau sekedar mencari pembenaran untuk tidak memperbaiki yang sudah ada? Sebagai ilustrasi dari ungkapan diatas, coba simak percakapan dua sahabat berikut ini :

Seorang mahasiswa kuliahnya tidak serius. Kadang masuk kuliah kadang tidak, tugas terbengkalai, SKS yang harus dikejar masih banyak, dan jarang sekali belajar. Begitu ditanya ternyata dia merasa terjebak masuk ke jurusan yang dipilihnya karena dia hanya ikut-ikutan saja. Teman-temannya masuk jurusan tersebut, dia pun ikut. Padahal jurusan yang ia ambil tidak sesuai dengan minat dan bakatnya dan juga hoby-nya.

“Mengapa kamu tidak pindah saja?” tanya temannya.
“Ah, biarlah, nasi sudah menjadi bubur” jawabnya, tidak peduli.
“Apakah kamu akan tetap seperti ini?”
“Mau gimana lagi, saya bilang nasi sudah jadi bubur, tidak bisa diperbaiki lagi.” jawabnya berargumen.
“Kalau kamu pindah kejurusan yang kamu sukai, kan kamu akan lebih enjoy.” kata temannya.
“Saya ini sudah tua, masa harus kuliah dari awal lagi. Saya terlambat menyadari kalau saya salah masuk jurusan.” jelasnya sambil merebahkan diri di kasur.
“Memang tidak ada yang bisa kamu lakukan lagi?” selidik temannya.
“Tidak, saya sudah katakan berulang-ulang nasi sudah jadi bubur.”

Loh Memang Tidak Suka Bubur?
Bubur, siapa yang tidak tahu jenis makanan ini. Makanan lembek yang biasanya dikonsumsi oleh balita atau orang yang sedang sakit. Tapi kita yang sedang sehatpun kadang tidak sungkan untuk menyantap jenis makanan ini dan bahkan ada yang hoby dengan yang namanya bubur. Pertanyaannya, memang ada yang tidak suka bubur. Saya bisa memastikan bahwa rata-rata orang suka dengan bubur. Mau buktinya? Nih contohnya ada tukang bubur yang tiap pagi ramai dikerubuti pembeli, termasuk saya juga kadang ikut antri hehe….

bubur ayam cirebon

Nah tuh kan, ternyata banyak orang yang suka sama bubur. Tapi kenapa ada istilah nasi sudah menjadi bubur yang kadang bisa dikonotasikan dengan hal yang negative? Entahlah, mungkin tergantung bagaimana kita menyikapi permasalahan keterlanjuran ini.

Nasi Sudah Menjadi Bubur, Tapi Bubur Yang Enak
Ternyata nasi yang sudah menjadi bubur itu tidak selamanya jelek dan tidak bermanfaat. Bubur yang sudah jadi memang tidak bisa kita rubah lagi menjadi nasi tapi bisa kita sulap menjadi makanan yang lezat. Menyesali yang sudah terjadi tidak ada manfaatnya. Satu-satunya cara ialah membuat bubur tersebut menjadi lebih nikmat, dengan menambahkan ayam, ampela, telor, dan bumbu. Rasanya enak dan lebih mahal.

Sebagai contoh mahasiswa yang salah memilih jurusan tadi, tentunya ada solusi agar keterlanjuran itu berubah menjadi sesuatu yang melezatkan. Mungkin dengan menerima dengan ikhlas dan yakin bahwa itu adalah kehendak Allah semata. Kemudian adalah berusaha mencintainya dan digabungkan dengan potensi dan hoby yang dimilikinya.

Contoh diatas hanya sebagain kecil hal yang mungkin pernah kita alaminya. Masih banyak contoh yang lainnya dalam kehidupan kita. Sekali lagi bubur memang tidak bisa kita rubah menjadi nasi. Sesuatu yang barangkali mustahil untuk dilakukan. Dan yang paling masuk akal adalah kita memoles bubur tadi agar menjadi bubur yang lezat dan mempunyai nilai tinggi. Seperti Bubur Ayam khas Cirebon.

Semoga bermanfaat dan happy blogging…..