Inilah Pihak Yang Dirugikan Oleh Kebijakan Redenomisasi

tukang bakso dan redenomisasi
gambar dari google
Redenomisasi | Pernah dengar kata Redenomisasi? Tentunya sudah kan, soalnya bebeberapa waktu lalu pemerintah dengan gencarnya membahas wacana ini. Bank Indonesia (BI) secara bertahap sudah mulai mensosialisasikan redenominasi. Sudah dua tahun terakhir ini memang bergulir ide untuk melakukan redenominasi terhadap mata uang rupiah. Saat ini dengan nilai mata uang seperti sekarang, penggunaan rupiah tidak lagi efisien. Penghitungan transaksi berskala besar yang menggunakan rupiah menyulitkan penghitungan.

Redenominasi bisa jadi merupakan barang baru bagi masyarakat. Arti dari redenominasi sendiri adalah penyederhanaan mata uang. Jadi, rupiah yang ada sekarang nanti dihilangkan tiga nol di belakangnya, misalnya Rp 1.000 menjadi Rp 1.
Begitu mendengar pengurangan nol, masyarakat langsung berpikiran ini sama dengan sanering atau pemotongan mata uang sebagimana kebijakan pemerintah di zaman Orde Lama. Sehingga, masyarakat pun menjadi khawatir nilai uangnya akan berkurang. Kekhawatiran lain adalah soal penetapan harga barang di pasar.

Yah walaupun sudah dijelaskan sedemikian rupa, toh masih saja orang yang belum paham tentang redenomisasi ini. Kalau kita tanya orang-orang di pasar sekarang ini tentang apa itu redenominasi, sebagian besar mereka belum tahu, sebagian yang lain sudah tahu tapi terbatas informasinya.

Tahukah sobat, jika ternyata kebijakan pemerintah ini tidak selamanya disambut postitif oleh sebagian masyarakat kita. Dan ternyata kebijakan ini pula ada beberapa pihak yang merasa dirugikan. Siapa pihak yang paling dirugikan oleh kebijakan ini? Jawabannya adalah orang jawa yang paling dirugikan. Kenapa bisa demikian? Coba deh simak dialog antara tukang bakso, mas Katimin dan seorang pembelinya.

"Mas sudah dengar belum, pemerintah akan mengeluarkan kebijakan redenominasi?”.

“Sudah dengar sih tentang “redomino itu” jawab Katimin yang kesulitan mengulang kata baru ini.
“Katanya sih uang Rp 1.000 jadi Rp 1, uang Rp 10.000 jadi Rp 10. Gak tahu mas,  apa maksudnya pemerintah”.

Tentu saja Katimin tidak tahu dan tidak mengerti apa maksud kebijakan pemerintah ini. Hanya dengan informasi secuil tentang rencana kebijakan pemerintah tentang redenominasi, di benak Katimin (secara psikologis) terbayang simpanannya yang Rp 5.000.000 akan menjadi Rp 5.000. 

“Jadi apa itu redenominasi mas” Katimin balik bertanya.
Menurut bahasa gaul tukang bakso, redenominasi itu adalah “penyederhanaan penulisan” koma “tanpa mengurangi nilai uang”.

Maksudnya apa mas? tanya Katimin yang makin bingung.

“Contohnya begini Min, kamu punya uang Rp 5.000 (uang lama) nanti akan ditukar jadi uang baru Rp 5 (uang baru). Tapi harga bakso yang biasanya kamu kulakan dengan harga Rp 5.000 / kg (pakai uang lama) akan menjadi Rp 5 / kg (kalau pakai uang baru). Sudah jelas Min ?

“Jelas mas”. Katimin mangut-manggut mungkin karena tambah bingung.
“Berarti orang Jawa yang paling rugi ya Mas?” tanya Katimin melanjutkan.

“Kok bisa Min?” mas pembeli balik bertanya.

“Orang Jawa gak bisa permisi, biasanya orang Jawa kalau mau permisi bilang “Nyuwun Sewu” sekarang jadi “Nyuwun Siji” mas. Terus, apa iya pedagang bakso mau menurunkan harga dari Rp 5.000 ke Rp 5,  mas ?

“Waduh…pening aku Min. Hehehe.....

Tuh kan jelas, siapa yang merasa dirugikan. Orang jawa kalau permisi biasanya akan bilang "Nyuwun Sewu". Sewu artinya seribu. Kalo jadi di redenomisasi menjadi Nyuwun Siji, yang artinya minta satu. Jadi janggal kan, bikin kikuk dan rugi juga, yang tadinya sewu jadi siji hehehe...

Semoga manfaat dan happy blogging........

Catatan : Nama hanya illustrasi belaka, mohon maaf jika ada kesamaan.

Share this

Catatan Kang Muroi, adalah blog yang menyajikan berbagai macam info menarik, Kolom Tutorial, Blogger Template, Motivasi, Otomotif, Rubrik Islam, Tips dan Trik dan berbagai macam hal menarik lainnya

Related Posts

Previous
Next Post »