Yang Terbaru

Subscribe Here!

Dapatkan Update Informasi Terbaru dari KANG MUROI Melalui Email

Blog Stats

Cukuplah Kematian Sebagai Nasehat

By On 26.4.13

Cukuplah Kematian Sebagai Nasehat | Assalamu 'alaikum Sobat Muro'i El-Barezy, hari ini kita, Jumat, 26 April 2013, kita dikejutkan dengan berita mengejutkan bagaikan petir di siang bolong. Seorang dai yang masih muda dan enerjik, Ustadz Jefry Al-Bukhari telah di panggil Allah subhanahu wa ta'ala. Tidak ada firasat sebelumnya dan kitapun tidak akan menyangka bukan?

Yah begitulah sobat, kematian adalah saat yang memilukan. Kematian akan sama-sama dialami oleh para raja, para penguasa, rakyat jelata, atasan dan bawahan, si kaya dan si miskin. Tak ada satupun keturunan anak Adam, yang luput dari peristiwa kematian.

Betapa pun panjang usia, dan betapa asyik masyuknya dengan masa muda, yang sehat dan gagah, manusia tetap akan mengalami saat kematian. Walaupun, manusia memiliki mobil-mobil, gedung-gedung, tinggal di apartemen yang super luk dan mewah, memakai pakaian yang terbuat dari sutera yang halus dan lembut, menikmati berbagai makanan restoran yang serba lezat, saling berkunjung dan banyak mengumbar gelak dan tawa, ketika datang kematian, semuanya itu pasti pupus dan tak berarti apa-apa.

Kadang-kadang manusia lupa akan kematian. Karena tenggelam dalam kenikmatan dunia, yang hanya sebentar itu. Kadang-kadang kehidupan dunia membuat manusia terhempas dalam khayalan yang tak ada ujungnya. Mereka terus menerus melanglang mengikuti hawa nafsunya, yang seakan tak berbatas. Manusia ingin mereguk segala kenikmatan dunia. Manusia yang mengejar kenikmatan dunia itu, bagaikan mereka yang mengejar fatamorgana di padang pasir, yang tak pernah mendapatkan kepuasan, dan tak pernah menemukan air yang dapat menghilangkan rasa dahaganya. Perhatikanlah pelajaran berharga dari kisah berikut ini.

Suatu saat, tatkala ajalnya sudah mendekat Amr Ibn Ash menangis lama ….Kapan lagi seseorang menangis bila tidak pada saat seperti ini? Dan, ketika ia sedang menangis, datanglah anaknya yang sangat zuhud yaitu Abdullah. Ia mengingatkan ayahnya agar berbaik sangka kepada Allah Ta’ala, dan selalu menaruh harapan kepada-Nya.

“Bukankah engkau telah masuk Islam, ayah?”, tukas Abdullah. “Engkau telah ikut hijrah bersama Rasulullah Saw?”, tambahnya. “Bukankah Rasulullah Saw telah mengangkat engkau menjadi panglima perang?”, lanjut Abdullah. “Bukankah ayah telah menaklukan Mesir?”, tegas Abdullah. Tapi, justru Amru Ibn Ash memalingkan mukanya ke dinding, sambil menangis panjang. Lalu, menghadapkan wajahnya ke orang-orang yang di sekelilingnya. Amru Ibn Ash menangis panjang, ketika ia mengingat kembali sebelum masuk Islam. “Adakah dosa-dosaku akan dihapuskan, ketika kelak aku menghadap Rabb?”, gumam Amru Hanya satu kalimat yang masih tersisa padaku, yang akan kujadikan hujjah dihadapan Allah Ta’ala yaitu: “Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah”.

Tentu, kalau ada orang yang dapat lolos dari kematian adalah Nabi Muhammad Saw. Tapi, kenyataannya tidak, dan Rasulullah Saw melewati saat yang juga dilewati manusa biasa.Padahal Rasulullah Saw adalah manusia yang paling mulia, dan kekasih Allah Rabbul Azis. Hanya bedanya dengan manusia biasa, beliau menerima kematian dengan lapang dada, karena telah banyak melakukan amal kebajikan.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw, ketika menghadapi sakaratul maut, mengambil khamishah (kain kecil), dan menaruhnya di wajah beliau, karena beratnya kondisi yang beliau hadapi. Lalu, beliau berdoa: “Laa ilahaa illallah…laa ilaaha illallah … laa ilaaha illallah. Sungguh, kematian itu amat pendih. Ya Allah, bantulah aku menghadapi sakaratul maut. Ya Allah, ringankanlah sakaratul maut ini buat ku”.

Aisyah menuturkan: “Demi Allah, beliau mencelupkan kain itu ke air, lalu meletakkannya di atas wajahnya”. Lalu, beliau berdoa: “Ya Allah, bantulah aku menghadapi sakaratul maut”. Mengapa Rasulullah Saw berdoa seperti itu? Para Sahabat menafsirkan, beliau berdoa demikian, karena diberi dua pilihan. Diperpanjang usianya atau bertemu Tuhannya. Tetapi, beliau, ‘justru memilih teman Tertingginya (Rabbnya)’. “Aku ingin segera meninggalkan dunia ini … aku ingin meninggal saat ini”, ujar Rasulullah Saw.

Beliau tahu, betapapun panjangnya usia dan jauhnya ajal, beliau tetap akan mengalami kematian. Semoga bermanfaat dan happy blogging [Referensi]



19 komentar

Selamat jalan ustad Uje semoga amal dan ibadahmu diterima TYME.Amin

untuk bahan perenungan yang harus terus menerus kita lakukan setiap waktu, agar kita menjadi lebih baik dalam setiap langkah, kematian akan tiba pada saatnya pada setiap mahluk yang hidup.

turut berdukacita atas wafatnya UJE, semoga amal baiknya mendapatkan balasan yang setimpal...aaaaamin
dikesempatan ini ijinkan saya meminta Maaf lahir dan batin kang.

orang mah kudu siap mati, om...
ga pernah ada yang tahu kapan nyawa kita dicabut
makanya aneh ketika dulu aku putuskan kerja di kalimantan ada temen yang nanya emang dah siapin nyawa serep..?

biarpun jalan raya katanya jadi pembunuh nomor satu, tetap saja kalah sama kasur. berapa banyak orang mati di jalan dan berapa banyak yang mati diatas sayang tumbila..?
hahaha...

selama apapun kita hidup di dunia, tetep aja itungannya masih sebentar banget kalau dibandingin sama hidup di akhirat....

semoga kita semua masuk surga yaaa....
ammiinnnn :)


salam kenal ya mas. izin follow blog ini

Selamat jalan UJE, semoga amal ibadahnya diterima ALLAH SWT

#MAHASISWA GO BLOG

saya tidak bisa komentar masalah ini,karena saya termasuk orang bodoh,jadi marilah untuk saling mengingatkan saja,mudah-mudahan apa yangb kita lakukan ada ridho dari yang maha kuasa.aamiiin.

Saya pas dgr berita uztad UJE meninggal, rasanya spt tidak mungkin sob. Gak nyangka bgt.
Mudah2an beliau mendapat tempat yg layak disisinya.

Saya juga gak menyangka sob.. Semoga saja beliau masuk surga.. aamiin..

Subhanallah.... sangat mengingatkan akan datangnya kematian. Syukron Akhi..

mlm akang yng udah biarlah brlalu kita cari lgi yng bru wkwkwk.

betapapun takutnya kita akan kematian pasti akan datang juga bila saatnya tiba...hatur nuhun kang sudah mengingatkan saya

semoga kita meninggal dalam keadaan khusnul khotimah

Masya Allah, terharu kang saya bacanya..

Semoga jadi renungan buat saya dan kita semua

Bener banget om..
Kematian bisa datang dimana saja, yang penting sih kita harus siap..

Amiin..

Salam kenal juga sob dan trims sudah follow bllognya