26 Jan 2013

Blusukan

Blusukan, kata itu akhir-akhir ini begitu populer dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi kosakata yang umum. Saking penasaran, saya sampai mencari-cari kata blusukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) atau kamus bahasa Indonesia lainnya. Hasilnya nihil, tidak ada satu katapun yang dapat menjelaskan apa itu arti blusukan dalam kamus. Dan ternyata, kata bluskan itu berasal dari bahasa Jawa, yang artinya adalah jalan-jalan ke tempat kotor, misalnya ke sawah atau tempat-tempat berlumpur. Keblusuk artinya masuk ke lumpur. Istilah kotor tersebut tentu perlu kita beri imbuhan tanda petik. ‘Kotor’ di sini tidak diidentikkan ke tempat-tempat yang bau dan penuh dengan bakteri, tapi memang bukan pula tempat yang bersih, licin, harum, atau mengilap.

Fenomena seperti ini sekarang sudah menjadi trend dikalangan pejabat kita, sebut saja misalnya Jokowi, gubernur baru DKI yang sering menjenguk tempat-tempat yang tidak terbiasa didatangi pejabat sebagaimana yang umumnya kita kenal, hal itu kian memopulerkan istilah tersebut. Dia pergi ke kampung-kampung melalui jalan-jalan becek, daerah banjir, pinggir kali, hingga masuk ke got di Jalan MH Thamrin. Istilah yang tepat tak lain dari blusukan.

Ketika banjir melanda Jakarta kata-kata blusukan semakin populer, karena banyak para pejabat yang turun langusng ke lokasi-lokasi banjir. Sebut saja seperti ketua fraksi PKS, Hidayat Nur Wahid yang rela menerobos banjir untuk memeberikan bantuan kepada para korban. Bagi orang biasa, ketika turun ke suatu daerah katakanlah yang terkena bencana, itu dianggap biasa dan tidak ada satupun media yang menyorotnya. Tapi lain halnya bagi pejabat public yang blsusukan ke tempat-tempat tersebut. Banyak nada miring bahkan mencibir dan mencemooh perilaku mereka. Mulai dari isu pencitraan, mendongkrak popularitas dan lain sebagainya.
blusukan
Foto Ketua Fraksi PKS Hidayat Nur Wahid blusukan menerobos banjir untuk 
memberikan bantuan kepada warga korban banjir di Petamburan, Jakarta. 
Padahal kita tidak tahu niat dari hati para pejabat kita, semoga niat ikhlas karena Allah dan tidak mengharap sanjungan dari siapapun juga. Karena memang seharusnya seperti itulah sikap seorang pemimpin terhadap rakyatnya, mengayomi dan sangat memperhatikan mereka.

Blusukan sebenarnya bukan isu baru dikalanngan para pejabat negara. Itulah yang dicontohkan oleh khalifah Umar bin Khatab selama kemimpinanya. Ia rela blsusukan ke tempat-tempat dimana ia bisa berbaur dengan rakyat jelata. Ia rela memikul sekarung gandum untuk diberikan kepada rakyatnya yang ketahuan kelaparan karena ia takut diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak. Umar bin Khatab juga seorang kholifah yang sangat bersahaja. Ia pernah tidur dibawah pohon kurma beratapkan langit dan beralaskan tikar lusuh. Tidak ada rasa sombong bahwa ia adalah seorang pemimpin yang menguasai wilayah seperempat dunia.

Blsusukan, sekali lagi semoga bukan menjadi trend sesaat para pemimpin bangsa ini. Bukan karena ikut-ikutan belaka. Karena bangsa ini perlu pemimpin yang betul-betul mau memperhatikan dan peduli terhadap rakyatnya. Dan kita sebaiknya husnudzan atau berbaik sangka terhadap apa yang mereka perbuat. Semoga karena Allah dan bukan mencari popularitas semata.

Semoga bermanfaat, happy blogging…