10 Oct 2012

Apakah Kekayaannya Mampu Membeli Kebahagiaan?

·   69

kekayaan tidak memberi kebahagiaanApakah Kekayaannya Mampu Membeli Kebahagiaan? | Kisah penting tentang kebahagiaan yang tidak terletak pada kekayaan adalah apa yang dialami oleh Christina Onasis. Namun kisah ini bukan berarti ane mengajak sobat blogger semua untuk hidup miskin. Sama sekali tidak. Kita justru diperintahkan untuk menjadi kaya dan bisa membantu sesama. Namun hanya sebagai bahan renungan buat kita semua bahwa uang atau kekayaan adalah bukan segalanya. Kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan melimpahnya harta, inilah buktinya.

Chrishtina Onasis adalah putri jutawan Yunani terkenal, Aristotle Onasis, yang memiliki armada kapal, pesawat terbang, danau dan pulau, deposito bank dalam jumlah yang sangat besar, dan kekayaan lainnya.  Yang membuat Christina begitu hebat adalah karena ia satu-satunya pewaris tunggal harta kekayaan ayahnya.

Dengan kekayaan yang begitu melimpah ruah, pasti kebanyakan orang akan berpikir bahwa Christina adalah orang yang paling bahagia. Apakah benar demikian? Jawaban atas pertanyaan ini akan dijawab oleh sejarah kehidupan Christina sendiri.

Christina menikah di Amerika Serikat, namun pernikahannya hanya mampu bertahan beberapa bulan saja. Sesudah itu pernikahannya hancur dan berakhir dengan perceraian. Lalu dia menikah lagi beberapa saat kemudian, namun lagi-lagi hanya bertahan beberapa bulan lamanya.

Christina memandang kebahagiaan yang selama ini dia cari, tidak ia temukan pada pernikahan-pernikahan sebelumnya. Bagaimanapun, kebahagiaan itu tidak hanya terletak pada materi belaka. Setelah beberapa tahun berlalu, dia kembali menikah, yaitu dengan seorang pria komunis dari Rusia. Bagi siapa saja yang mengenalnya, tentu apa yang dilakuakan ini sangat unik, karena ia berusaha melepaskan diri dari gaya hidup barat dengan menikahi seorang pria timur yang komunis. 
Ketika ditanya kepadanya , “Sebagai wanita yang banyak memainkan peranan ideology kapitalis mengapa anda mau menikah dengan laki-laki yang menganut ideologi komunis?, dengan terus terang dia menjawab, “Aku sedang mencari-cari kebahagiaan.”

Dia berpikir dengan menikahi pria timur, ia akan mendapatkan kebahagiaan. Tetapi disini, ia hanya mencoba keberuntungan dengan tidak ada jaminan. Undang-undang di Rusia tidak membenarkan seseorang memlihara pembantu. Maka disana jadilah Christina sebagai pembantu di rumahnya sendiri yang hanya terdiri dari dua kamar itu.
Lantas apakah dia benar-benar bahagia dengan pernikahannya itu? Tidak pernah!! Dia dengan susah payah tinggal dengan pria Rusia itu hanya dalam waktu kurang lebih satu tahun saja, dan kemudian secepatnya keduanya bercerai.

Kelihatannya itu bukanlah ujung dilema pernikahannya. Dia kembali ke Eropa dan kemudian memutuskan untuk menikah dengan pengusaha Prancis, namun lagi-lagi keduanya bercerai. Pernikahannya hanya mampu bertahan dua tahun. Ketika ditanya oleh wartawan apakah dia wanita paling kaya, dia menjawab, “Ya! Aku adalah perempuan paling kaya tetapi yang paling tak bahagia.”

Setelah mengalami kegagalan demi kegagalan dalam pernikahannya, Christina berjanji untuk tidak menikah lagi dan mencoba meraih kebahagiaan dengan hidup sendiri.
Bagaimanapun, kebahagiaan terasa mustahil baginya. Dia membelanjakan sisa hidupnya dengan frustasi dan putus asa. Dia bepergian ke kota-kota besar, sampai akhirnya ditemukan mati di kamar hotel di Argentina. Siapa yang membunuhnya? Dia melakukan bunuh diri! Inilah akhir yang sangat tragis dari wanita yang paling kaya di dunia.

Apakah kekayaannya mampu membeli kebahagiaan? Tidak pernah, tentu saja!!!

Quote :
"Hewan-hewan yang ada di sekitar kita lebih berbahagia daripada kita, manusia. Padahal harusnya kebahagiaan itu juga dapat dinikmati oleh manusia. Tapi kenyataannya, di alam modern ini manusia tidak dapat menikmati hidup dan kini semakin tampak,…”
[Bertrand Russel]

Semoga bermanfaat, salam sukses selalu….


Subscribe to this Blog via Email :