19 Jul 2012

Anjuran Mengikuti Pemerintah Dalam Menentukan Awal Puasa

·   29

Hampir tiap tahun terjadi perbedaan penetapan awal Ramadhan di Negara kita. Ormas satu sama lainnya saling berbeda pendapat mengenai awal puasa dengan hujjah atau pendapat mereka masing-masing. Perbedaan bisa menjadi rahmat selama tidak menimbulkan perpecahan antar umat. Tahun ini pemerintah kita telah memutuskan bahwa awal ramadhan tahun 1433 H jatuh pada hari sabtu tanggal 21 Juli 2012 sesuai hasil sidang itsbat yang berlangsung di auditorium Kementerian Agama, Jalan MH Thamrin No 6, Jakarta, Kamis malam (19/7).
Apapun keputusan pemerintah haruslah kita hormati dan kita taati demi untuk menghilangkan perpecahan antar umat. Apa jadinya jika masing-masing kelompok menentukan sendiri awal puasa dan hari raya ? mungkin yang terjadi adalah perpecahan antar umat, dan meningkatnya fanatik kelompok. Sobat bisa bayangkan , jika sebagian orang sudah menahan diri untuk berpuasa, sedangkan sebagian lain masih makan dan minum dan  juga ketika Hari Raya berbeda, sebagian masih menahan lapar, sebagian sudah makan ketupat dan opor ayam, sangat tidak lucu bukan?
Berikut ini petikan hadits yang menganjurkan kepada kita untuk mengikuti pemerintah dalam melaksankan puasa dan hari raya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
الصوم يوم تصومون، و الفطر يوم تفطرون، و الأضحى يوم تضحون
“Puasa adalah hari ketika kalian berpuasa bersama. Hari raya idul fitri juga di hari ketika kalian berhari raya bersama. Kurban juga di hari ketika kalian berkurban bersama.” (HR. Tirmidzi [693] dan Ibnu Majah [1660] dinyatakan sanadnya jayyid oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah [hadits ke-224], Sahih wa Dha’if Sunan At-Tirmidzi [697], dan Shahihul Jami’ [3869] dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).
At-Tirmidzi mengatakan setelah membawakan hadits di atas,
وفسر بعض أهل العلم هذا الحديث فقال: إنما معنى هذا، الصوم والفطر مع الجماعة وعظم الناس
“Sebagian ulama menafsirkan hadits ini dengan mengatakan : sesungguhnya makna dari ungkapan tersebut adalah berpuasa dan berhari raya (hendaknya) bersama dengan masyarakat (jama’ah) dan kebanyakan orang.” (Sunan At-Tirmidzi, Bab ma jaa’a annal fithra yauma tufthiruun wal adh-ha yauma tudhahhuun).
Dalam hadits lain juga dikatakan :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ « لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ ، وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ » .
Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammenyebutkan Ramadhan, beliau bersabda: “Janganlah kalian berpuasa sampai kalian melihat hilal dan jangan kalian berbuka (berhari raya) sampai kalian melihat (hilal)nya, maka jika tertutup atas kalian (hilal tersebut), maka ukurlah baginya.” HR. Bukhari dan Muslim.

Sungguh indah rasanya jika kita selalu dalam kebersamaan dan meminimalisir perbedaan. Namun demikian, semuanya diserahkan kepada keyakinan masing-masing. Dan hendaklah kita saling menghormati dan tidak saling mencemooh golongan satu dengan yang lainnya.

Semoga bermanfaat, happy blogging….



Subscribe to this Blog via Email :