11 Jul 2012

6 Hal Untuk Mencapai Kesempurnaan Puasa

·   19

Melanjutkan pembahasan yang terdahulu tentang 3 Tingkatan dalam Puasa. Sobat, tentunya kita tidak ingin termasuk golongan pertama yang sia-sia puasanya. Maka marilah kita simak apa yang disampaikan Oleh Imam al-Ghazali untuk mencapai derajat tingkatan kedua tersebut. Imam al-Ghazali menjelaskan enam hal untuk mencapai kesempurnaan puasa tingkatan kedua : Pertama, menahan pandangan dari segala hal yang dicela dan dimakruhkan serta dari tiap-tiap yang membimbangkan dan melalaikan dari mengingat Allah. Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa meninggalkan pandangan karena takut kepada Allah, niscaya Allah menganugerahkan padanya keimanan yang mendatangkan kemanisan dalam hatinya.”
Kedua, menjaga lidah dari perkataan sia-sia, berdusta, mengumpat, berkata keji, dan mengharuskan berdiam diri, menggunakan waktu untuk berzikir kepada Allah serta membaca al-Qur’an. Rasulullah saw bersabda: “Dua perkara merusakkan puasa yaitu, mengumpat dan berbohong.”
Ketiga, menjaga pendengaran dari mendengar kata-kata yang tidak baik, karena tiap-tiap yang haram diucapkan maka haram pula mendengarnya. Rasulullah saw menjelaskan: “Yang mengumpat dan yang mendengar, berserikat dalam dosa.”
Keempat, mencegah anggota tubuh yang lain dari perbuatan dosa. Seperti mencegah tangan dan kaki dari berbuat maksiat dan mungkar, mencegah perut dari memakan makanan yang syubhat dan haram.
Kelima, tidak berlebih-lebihan dalam berbuka sampai perutnya penuh makanan. Orang yang berbuka secara berlebihan tentu tidak akan dapat memetik manfaat dan hikmah puasa. Bagaimana ia bisa mengalahkan musuh Allah dan mengendalikan hawa nafsunya, jika saat berbuka justru memanjakan nafsunya dengan makanan yang berlebihan.
Keenam, hatinya senantiasa diliputi perasaan cemas (khauf) dan harap (raja’), karena tidak diketahui apakah puasanya diterima atau tidak oleh Allah. Rasa cemas diperlukan untuk meningkatkan kualitas puasa, sedangkan penuh harap berperanan dalam menumbuhkan optimisme.

Semoga bermanfaat...


(Referensi : Ihya Ulumuddin).

Subscribe to this Blog via Email :