20 Apr 2012

Hikmah Dibalik Musibah

·   24

Setelah posting Stres..?Buah Pisang Solusinya. Kali ini, Muro’i El-Barezy ingin berbagi sebuah cerita yang semoga bisa kita ambil hikmahnya. Sobat akan menemui hikmah dibalik cerita ini jika sampai selesai membacanya. Semoga bermanfaat.

Suatu ketika ada kapal tenggelam akibat diterjang badai. Tak ada penumpangnya yang tersisa. Kecuali satu orang yang berhasil mendapatkan pelampung. Namun, nasib baik belum seutuhnya berpihak kepada pria itu, dia terdampar di sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Sendiri. Tanpa bekal makanan dan minuman.
Orang itu berdoa kepada Tuhan minta diselamatkan. Usai berdoa, ia pandangi penjuru langit. Berharap ada kapal datang. Tapi, tak ada tanda tanda ada kapal yang diharapkan tiba. Ia berdoa lebih khusyu lagi. Kemudian menatap jauh ke laut lepas. Tak ada kapal datang. Sekali lagi pria itu berdoa, tapi tak ada tanda tanda kapal akan datang. Ya, hampir tidak ada kapal lewat didekatnya.
Akhirnya, pria itu tidak berdoa lagi. Ia telah lelah berharap. Lalu, iapun menghangatkan badan. Dikumpulkannya pelepah nyiur untuk membuat perapian. Setelah tubuhnya terasa nyaman, pria itu membuat rumah-rumahan sekedar tempat melepas lelah. Disusunnya semua nyiur dengan cermat agar bangunan itu kokoh dan dapat bertahan lama.
Keesokan harinya, pria malang itu mencari makanan. Dicarinya buah buahan untuk mengganjal perutnya yang lapar. Semua pelosok dijelajahi hingga kemudian ia kembali ke gubugnya. Namun ia terkejut. Semuanya hangus terbakar, rata dengan tanah.Gubuk itu terbakar karena ia lupa memadamkan perapian. Asap membumbung tinggi ke angkasa. Hilanglah semua kerja keras semalaman.
Pria itu berteriak marah,”Tuhan, kenapa Engkau melakukan ini kepadaku. Mengapa? Mengapaaaa..?” teriaknya melengking menyesali nasib.
Belum lagi hilang rasa sedih, tiba tiba terdengar suara peluit. Tuiiit…tuuuiiiitt…Ternyata itu suara kapal yang sedang mendekat. Kapal itu merapat ke pantai. Beberapa orang turun dan menghampiri pria yang sedang menangisi nasibnya itu.
Tentu saja ia terkejut. “Bagiamana kalian bisa tahu kalau aku ada disini? Tanyanya penuh keheranan. “Kami melihat symbol asapmu!jawab salah seorang awak kapal.

Sobat, itulah kita. Kita adalah orang yang biasa manja dan pemarah saat ditimpa musibah. Bahkan, selalu menilai bahwa nestapa yang kita terima adalah penderitaan yang begitu berat sehingga kenapa begitu mudah kita mengeluh, marah dan bahkan mengumpat.
Sobat, tentu itu tidak benar. Seharusnya musibah tidak boleh membuat kita kehilangan hati kita. Tuhan harus selalu ada dihati kita, walau dalam keadaan yang paling berat sekalipun. Sebab Tuhan tidak tidur. Ia tahu betul jeritan dan kegelisahan hati kita. Ia maha Pegasih dan Penyayang. Dan kasih-Nya selalu datang kepada kita. Pada saat dan cara yang tidak disangka-sangka. Hanya saja kita terlalu kerdil untuk memahaminya. "TIAP MUSIBAH PASTI ADA HIKMAHNYA".


Subscribe to this Blog via Email :